Sunday, January 31, 2016

Who's who (Indonesian ver.) - Ch 6

       Suaranya semakin parau, keringat benar-benar membasahi tubuhnya sekarang. Dia sudah seperti orang gila sekarang, tidak peduli siapapun itu dia menyingkirkan mereka semua dengan sapuan tangannya demi meraih sahabatnya.

              " DINAA.. DINAAAA!!! "

       Guru itu tahu apa yang harus dia lakukan, dia meletakkan tubuh yang tak bernyawa itu di sebuah sofa. Veny langsung meraih Dina, memeluknya erat-erat, meraung sekeras-kerasnya, menangis sejadi-jadinya. Padahal dia tahu sekeras apapun usahanya memanggil, Dina tidak akan menjawab. Beberapa tangan guru dan teman-temannya memegangi bahunya untuk menenangkan dia, tapi percuma Veny sudah tidak bisa mengendalikan dirinya, dia terus merangkul sahabatnya itu berharap agar Dina bisa membalas pelukannya.

        Andai saja di dunia ini ada suatu istilah untuk menggambarkan perasaan Veny saat itu, mungkin dia bisa sedikit tenang, tapi ternyata yang dia alami saat ini lebih buruk daripada apapun. Veny hanya bisa menangis tersedak-sedak sekarang, suaranya hampir habis, tatapan matanya kosong .  . . sangat kosong. Teman-temannya terus berusaha menenangkannya meski mereka sendiri merasa terkejut dengan kejadian ini. Terlihat dari kejauhan kepala sekolah membawa sekelompok orang dewasa, rupanya polisi dan pihak rumah sakit. Mereka mulai memeriksa jasad Dina dan menyelidiki tempat itu.

             " Kenapa bisa . . ", tiba-tiba Veny berkata pelan pada seorang guru di sebelahnya

             " Kita sama-sama tidak tahu penyebabnya, tapi yang jelas sahabatmu mungkin dibunuh oleh seseorang ", guru itu berusaha memilih kata-kata yang pas.

             " Tapi kenapa? Dina tidak pernah menyakiti seseorang . . kenapa harus dia "

        Tiba-tiba muncul sebuah pertanyaan di pikiran Veny
              
              " Dimana pertama kali Dina ditemukan? "

             " Anehnya dia ditemukan di dalam ruangan kecil di sebelah sana "

         Tanpa harus melihat telunjuk sang guru, Veny sudah tahu dimana tempat yang dimaksud. Tentu saja, ruangan itu adalah ruangan yang pertama kali dilihatnya saat hari pertama dia masuk sekolah. Ruangan dengan pintu yang susah untuk dibuka dan tingginya tidak sebesar pintu pada umumnya. Segera saja dia berdiri dan berteriak.

              " DIMANA DIA? HARUSNYA DIA YANG BERJAGA DISINI KAN? HARUSNYA DIA TAHU APA YANG TERJADI DISINI "

              " A-apa maksudmu Ven? Kamu cari siapa? ", seorang temannya menjawab dengan ketakutan

              " SIAPA LAGI? JELAS ADMIN PERPUSTAKAAN KAN? BUKANKAH DIA YANG SELALU PUNYA AKSES KE SINI? "

              " Tenanglah Veny, kami sama sekali tidak mengerti apa maksudmu ", tangan sang guru mencoba merangkul dan menenangkannya.

              " AKU AKAN BERTANYA LANGSUNG PADANYA! "

         Dengan satu gerakan cepat Veny melepaskan diri dan langsung berlari ke arah dia tadi berpapasan dengan si admin. Dia terus mencari, berlari tanpa henti, melihat di seluruh isi ruangan. Bahkan sampai dia keluar ruangan, sosok yang dia cari tidak ada dimanapun. Dia mencoba bertanya ke beberapa murid yang lain, mereka juga tidak tahu. Veny berhenti berlari, nafasnya tersengal-sengal. Kemana dia? tidak mungkin dia meninggalkan tempat ini, tempat ini harusnya tanggung jawab dia, pikirnya. Veny tidak kuat lagi berpikir apalagi berjalan, namun dia terus melihat sekeliling, tetap berusaha mencari, sampai akhirnya ruangan itu menjadi gelap gulita. . .


------------------------------------------------------------


            Veny terbangun, wajahnya pucat, keringat membasahi wajah cantiknya hingga rambut dan lehernya, nafasnya tersengal pendek. Mimpi itu masih terus datang padanya. Sudah setahun berlalu, namun itu semua masih terasa nyata baginya. Dia bahkan tidak punya tenaga untuk beranjak. Bayangan Dina yang terbujur lemas di depannya saat itu masih membekas di benaknya. Tapi yang benar-benar masih mengganjal di hatinya adalah orang itu, siapa lagi kalau bukan admin perpustakaan. Benar-benar aneh, sejak kejadian itu sampai dengan sekarang, dia tidak pernah menampakkan dirinya lagi. Bayangkan saja, sejak Dina meninggal sama sekali tidak nampak orang tersebut di sekolah. Kenapa pihak sekolah dan bahkan polisi tidak mencurigainya? apakah mereka tidak bisa menemukan orang itu. 

           Didorong sejumlah tenaga, Veny bangkit dari kasurnya. Dia memandang meja belajarnya. Sebuah benda yang pernah dimiliki sahabatnya tergeletak disitu selama setahun tanpa pernah tersentuh lagi. Kalau diingat-ingat dia belum menemukan orang yang meletakkan handphone Dina ke dalam tasnya saat itu. Mungkin kah, orang yang sama?

           Terdengar handphonenya sendiri berbunyi, sebuah pesan. Veny tersenyum kecil, setidaknya dia bisa membuat dirinya rileks sejenak Hari Minggu ini. Bagas . . ya dialah yang bisa benar-benar mengerti dirinya. Rasanya apapun yang Veny rasakan, dia bisa menceritakan semuanya ke Bagas. Setelah membalas pesan tersebut, Veny keluar kamarnya untuk makan malam.

No comments:

Post a Comment