Tuesday, January 26, 2016

Who's who (Indonesian ver.) - Ch 1

          Tidak seperti biasa, malam itu dinginnya begitu menusuk bahkan jaket dan selimut tidak dapat memberikan kehangatan yang berarti. Usai mandi sore tadi Veny merasa lebih segar, untungnya hari ini dia belum ada tugas sekolah karena memang minggu-minggu awal hanya digunakan untuk perkenalan antar murid dan guru. Karena itu, Veny dapat menggunakan waktu luangnya ini untuk bermalas-malasan di kasurnya. Tiba-tiba saja ponsel Veny bergetar…


      “Halo Ven, udah tidur? ”

      “Belum Din, kenapa? ”

      “Yaa gapapa sih tanya aja… eh besok temenin aku ke perpus yuk”

     “Hah tumben kamu ke perpus? Kayaknya sejak SD gak pernah lihat seorang Dina pegang buku pelajaran”

     “Aku udah kapok sama jaman-jaman kebodohan Ven haha, lagian kata kakak kelas admin perpusnya cakep abis, makanya sekalian modus hehe

      “Tuh kan pasti ada maunya , yaudah besok aku temenin”

      “Siip emang best friend banget deh haha… yaudah thanks yaa”

      “iyeee”


           Veny tersenyum geli mendengar kelakuan teman sejak kecilnya itu. Mereka sudah berteman sejak umur 6 tahun karena rumah mereka yang memang dekat. Meski begitu mereka tetap mempunyai ciri khas masing-masing. Veny lebih rajin dibandingkan dengan Dina yang bahkan sejak SD dia hampir tidak pernah belajar sama sekali. Selain itu, mereka juga punya hobi dan kesukaan yang berbeda. Tapi bagi Veny tidak ada orang lain selain Dina yang bisa mengerti dia.


          Veny lalu bangkit dari kasurnya untuk sekedar menyiapkan keperluan sekolahnya besok. Lalu dia menutup gorden jendelanya dan mematikan lampu kamarnya. Sekali lagi dia langsung melempar tubuhnya ke kasur dan memejamkan mata…..


          Keesokan paginya, setelah mandi dan sarapan dia langsung menyambar tas selempang warna biru kesukaannya dan berpamitan pada orangtuanya. Dia keluar dari rumahnya. Cuaca pagi itu tidak secerah kemarin, bahkan mendung. Hawa dingin sejak tadi malam juga masih tersisa. Jalanan saat itu masih sepi. Veny sengaja berangkat lebih awal agar dia bisa berkeliling sekolah untuk lebih mengenal lingkungan sekolah barunya.


          Saat sampai di sekolah keadaan sekolah masih sangat sepi hanya satu atau dua anak yang sudah datang, itupun mereka langsung masuk ke kelas mereka masing-masing. Segera saja Veny mulai berjalan keliling sekolahnya. Dengan mengambil arah secara random dia terus menelusuri satu persatu tempat yang ada. Jika diperhatikan dengan seksama sekolah ini lumayan bersih dan nyaman. Kesan mewah juga ditampakkan dari bangunannya yang sudah modern dan dilengkapi dengan 3 tingkat lantai. Selama berkeliing Veny melewati banyak ruang kelas, kamar mandi, laboraturium dan akhirnya… perpustakaan.. ya, ini adalah perpustakaan yang akan dituju Veny dan Dina nanti sepulang sekolah. Sebenarnya dalam diri Veny tidak ada ketertarikan sama sekali dengan apa yang ada di dalam sana, apalagi tentang admin yang katanya cakep. Akan tetapi, entah dorongan dari mana, Veny bergerak maju dan mendekati pintu perpustakaan.


          Aneh…. seharusnya waktu sepagi ini semua ruangan kecuali ruang kelas masih dikunci rapat-rapat, tapi tidak dengan pintu ini. Akhirnya muncul rasa penasaran dalam diri Veny yang membuatnya mendorong pintu itu perlahan-lahan.


       “ Permisi...”


          Dengan pelan Veny mengecek apakah ada orang di dalam. 5 menit berlalu, Veny masih berada di tempat dimana dia baru saja masuk dan tidak ada sedikitpun suara yang membalas ucapannya. Veny mengernyitkan alis dan mendengarkan dengan seksama sekali lagi kalau-kalau ada yang membalas.


       “ Pak satpam kayaknya lupa ngunci deh.”  Veny berbicara dalam hati.


          Akhirnya dia memberanikan diri untuk melihat-lihat isi dari ruangan itu. Ruangan itu memiliki 3 jendela yang langsung menghadap ke arah jalan di samping sekolah dan karena letaknya di lantai 3 maka dari sini dia dapat melihat dengan jelas apa saja yang ada di luar sana. Ruang ini memiliki 5 rak buku besar yang berisi buku yang beraneka macam. Di tengah ruangan ada 4 meja panjang lengkap dengan kursinya dan juga sebuah meja administrasi di sudut ruangan. Ruangan itu masih remang-remang karena saat Veny masuk lampu belum dinyalakan dan cahaya hanya berasal dari sinar matahari yang masih sangat redup yang melewati jendela bertutupkan gorden berwarna oranye. Dia melanjutkan untuk melihat isi dari ruangan itu. Tak lama kemudian dia menemukan sebuah pintu yang terletak di pojok ruangan. Pintu itu terlihat sudah tua, warna coklatnya juga sudah mulai memudar. Dari luar pintu itu tidak terlihat karena tersembunyi diantara rak-rak buku dan juga ukurannya yang tidak setinggi pintu pada umumnya. Dia mencoba membuka pintu itu…. Susah sekali pintu itu dibuka, tapi pintu itu tidak terkunci. Dengan dorongan ekstra pintu itu terbuka hanya beberapa jengkal…..


          Sampai sebuah tangan dingin menyentuh bahunya…


                                                                           

No comments:

Post a Comment