Friday, January 29, 2016

Who's who (Indonesian ver.) - Ch 4

        Bagaimana mungkin . . . ini terlalu tidak masuk akal . . .

       Detik ini, Veny melihat handphone yang sangat dia kenal. Ini handphone Dina, pikirnya. Tapi kenapa harus ada disini, di tasnya. Sungguh tidak mungkin disaat pemiliknya entah dimana tetapi handphonenya ada di Veny. Seingatnya dia bahkan tidak mempunyai penyakit psikis kleptomania. Tapi mengapa bisa ada disini.Veny terus memutar otak. Mungkinkah orang lain yang menaruhnya disini? tapi siapa? untuk apa?

         Sedetik kemudian, pikirannya serasa tersambar petir. Perpustakaan!!!
      
        Dia ingat betul tasnya yang secara mendadak menjadi rapi padahal dia melemparnya dengan sembarangan. Kalau memang benar ada orang lain yang menaruh handphone Dina di tasnya, pasti itu saat dia mengunjungi perpustakaan. Nafasnya mendadak menjadi berat, di dalam pikirannya dia mencari-cari siapa kira-kira yang melakukan itu, dan untuk apa. Sampai sebuah suara mengagetkan lamunannya.


               " Veny, ada telfon dari ibunya Dina "

               " Ah, iya bu "

          Untuk apa beliau menelepon malam hari begini, tanyanya dalam hati. Begitu sampai di depan telepon terlihat ibunya yang pergi menuju dapur dengan sedikit kebingungan. Tetapi Veny tidak berpikir apa-apa dan langsung meraih gagang telepon. 

               " Ya tante, ini Veny "

              " Begini Ven, tadi sore tante bingung melihat kamu tiba-tiba berlari seperti itu, apa terjadi sesuatu sama Dina? "

               " E..ee... nggakpapa kok te, Dina lagi belajar nih di kamar Veny hehe"

               " Oh ya, bisa tante bicara sama Dina? soalnya tante telfon ke handphonenya tapi nggak dijawab " 

              " Umm.. Dina.. lagi ke kamar mandi tante ", Veny berusaha keras untuk berbohong meski dengan susah payah.

              " Oh yasudah, bilangin ke Dina kalau memang mau nginep beberapa hari gakpapa tapi jangan lama-lama ya "

                " I-iya te nanti Veny sampaikan kok "


         Sembari dia meletakkan gagang teleponnya dia mulai menyesal di dalam hatinya, kenapa dia berbohong? kenapa dia harus berpura-pura Dina ada bersamanya? kenapa dia tidak katakan bahwa dirinya sendiri juga tidak tahu Dina ada dimana sekarang. Veny berjalan kembali ke kamarnya. Dia tahu bahwa jika memang Dina menghilang, tidak ada cara lagi untuk menghubunginya, handphonenya saja ada di tangan Veny sekarang. Akan tetapi, lagi-lagi Veny harus kesana besok, ketempat yang sama . . .  

--------------------------------------------------------------------

           Jam pelajaran terasa lama hari ini, ditambah lagi cuaca yang sangat panas membuat peluh menetes sedikit demi sedikit sejak pagi tadi. Meskipun begitu tidak ada satupun dari materi yang bisa masuk ke otak Veny. Di pikirannya hanya ada Dina, begitu khawatir sehingga dia seakan-akan ingin langsung keluar kelas sekarang juga dan berlari ke perpustakaan. Dia mengeluarkan handphone Dina dari dalam saku roknya, menggenggam erat-erat benda berwarna pink itu. 


              " Tidak, aku gak boleh panik. Dina pasti baik-baik aja ", dia mencoba menenangkan dirinya sendiri.


           Setelah beberapa jam, akhirnya jam pelajaran usai. Begitu Veny selesai mengemasi barangnya, dia langsung melesat menuju tempat yang ada di pikirannya sejak kemarin. Sesampainya di sana, perpustakaan tidak seperti biasanya. Padat, ramai, namun tidak hanya murid yang ada disana, dia bisa melihat beberapa guru dan staff bahkan kepala sekolah juga ada disana. Tidak peduli apapun yang mereka lakukan, Veny terus bergerak maju. Semakin dekat dengan kerumunan dia bisa mendengar beberapa percakapan di dalamnya : " Kelas 1 ", " Perempuan ", dan juga DINA!!! 

            Begitu mendengar nama sahabatnya disebut, dia langsung memaksa bergerak maju mendorong beberapa kelompok anak dan bahkan guru. Ditengah usahanya untuk masuk kedalam dia berpapasan dengan orang itu lagi. Veny kenal betul sosok itu, kacamatanya memantulkan cahaya di ruangan itu dan menutupi bayangan matanya, seperti biasa. Namun, hari ini dia seperti sedikit berbeda. Masa bodoh dengan itu, dia meneruskan usahanya. Belum 3 langkah dia melanjutkan, seisi ruangan terpecah oleh sebuah teriakan keras. Semua mata sontak menuju ke satu arah begitu juga Veny. Pasti ini mimpi buruk, pikirnya. Matanya tidak bisa berpaling kearah lain. Terasa sesuatu yang begitu berat jatuh ke dalam perutnya. Telinganya berdesing kencang. Suaranya tercekat.
"Sesosok perempuan terkulai lemas di kedua pangkuan tangan seorang guru. Tangannya menggantung bebas seperti tanpa tulang. Warna merah pekat menodai seragam putih bersih dan wajah cantiknya. Tubuhnya menandakan bahwa dia sudah tidak bisa mendengar orang lain memanggil namanya, bahkan sahabatnya sekalipun"

DINAAA!!!! 


No comments:

Post a Comment