"Harusnya aku yang marah, kenapa dia yang ngambek dan nggak kasih kabar sama sekali" , geram Veny dalam hati
Sudah 2 hari sejak hari pertama mereka masuk sekolah, sudah 2 hari juga mereka tidak saling menghubungi satu sama lain. Terakhir mereka berkomunikasi adalah saat Veny mengantarkan Dina ke perpustakaan sekolah. Semakin dipikirkan Veny semakin penasaran kemana Dina sekarang, mungkinkah dia bolos sekolah namun pergi ke perpustakaan hanya untuk melihat si admin? tidak itu tidak mungkin. Tapi, Veny berpikir mungkin ada baiknya dia datang ke perpustakaan, just in case.
Seperti yang dia duga, tidak ada tanda-tanda Dina disana hanya beberapa kelompok siswa yang sedang membaca buku di meja tengah ruangan. Tak puas dengan hasil pencariannya, Veny melanjutkan melihat isi perpustakaan itu karena terakhir kali dia kesana ruangan masih samar-samar terlihat. Dengan asal dia menaruh tasnya di meja kosong dekat meja administrasi. Lalu dia menelusuri ruangan itu dan sampailah dia ke sebuah pintu kecil berwarna coklat yang tidak berhasil dia buka di waktu yang lalu. Sekali lagi, rasa merinding pada kunjungannya yang terakhir kesini terasa kembali. Segera saja dia memutar badannya dan beranjak pulang. Saat dia hendak mengambil tasnya, ada yang aneh dengan posisi tasnya. Tas itu dalam keadaan rapi padahal dia ingat menaruhnya sembarangan tadi. Tetapi, masa bodoh dengan itu Veny langsung menyambar tasnya dan dia tahu harus kemana dia selanjutnya.
------------------------------------------------------------------------
Keadaannya sama dengan pertama kali Veny kesini belasan tahun lalu, sebuah rumah sederhana yang nampak asri berpagar hijau, dikelilingi sejumlah pohon yang Veny kenali adalah pohon Jambu. Veny mencoba menekan bel yang ada di pagar rumah tersebut. Tak lama kemudian, dari dalam muncul sesosok wanita berumur 40-an yang mengenakan daster rumahnya, entah kenapa begitu melihat Veny di wajah wanita itu jelas tersirat rasa senang.
" Permisi Tante, saya mau mencari .... "
" Ah, Veny ya.. gimana Dina? maaf ya anak tante ngerepotin "
" A..apa? "
" Sebenernya Dina nggak pernah tante bolehin menginap di rumah temen, tapi karena di rumahnya Veny ya tante bolehin hehe "
" E..ee..iyaa hehe, kalau gitu Veny permisi dulu yah baru inget ada urusan penting "
Tanpa menoleh ke belakang Veny langsung berlari secepat kilat. Apa ini, kenapa ibunya Dina berkata seperti itu? Veny terus berlari sampai kerumahnya. Sesampainya disana dia langsung menuju ke kamarnya dan mengunci pintu. Benar-benar tidak bisa dimengerti. Rasanya semua jadi aneh hari ini, tidak 2 hari ini sejak Veny dan Dina ke perpustakaan itu.
" Tenang, aku harus tenang ", dia berkata pada dirinya sendiri.
Lalu dia merekonstruksi semua yang dia alami dari awal, ya semua. Mengapa Dina tidak masuk sekolah, mengapa dia juga tidak ada di perpustakaan, mengapa ibunya berkata seolah-olah Dina ada di rumah Veny, tapi tidak ada jawaban yang tertera di pikirannya. Jawabannya hanya ada disana, pikirnya. Langsung saja dia mengambil handphonenya dan menelpon sahabatnya itu.
" Dina, ayo angkat Din " Veny mulai panik
Veny terdiam, mulutnya setengah menganga, selama beberapa detik dunia serasa berhenti bergerak, matanya tertuju pada sesuatu, telinganya bereaksi. Suara handphone yang jelas bukan miliknya berbunyi di dalam tasnya . . .
" Permisi Tante, saya mau mencari .... "
" Ah, Veny ya.. gimana Dina? maaf ya anak tante ngerepotin "
" A..apa? "
" Sebenernya Dina nggak pernah tante bolehin menginap di rumah temen, tapi karena di rumahnya Veny ya tante bolehin hehe "
" E..ee..iyaa hehe, kalau gitu Veny permisi dulu yah baru inget ada urusan penting "
Tanpa menoleh ke belakang Veny langsung berlari secepat kilat. Apa ini, kenapa ibunya Dina berkata seperti itu? Veny terus berlari sampai kerumahnya. Sesampainya disana dia langsung menuju ke kamarnya dan mengunci pintu. Benar-benar tidak bisa dimengerti. Rasanya semua jadi aneh hari ini, tidak 2 hari ini sejak Veny dan Dina ke perpustakaan itu.
" Tenang, aku harus tenang ", dia berkata pada dirinya sendiri.
Lalu dia merekonstruksi semua yang dia alami dari awal, ya semua. Mengapa Dina tidak masuk sekolah, mengapa dia juga tidak ada di perpustakaan, mengapa ibunya berkata seolah-olah Dina ada di rumah Veny, tapi tidak ada jawaban yang tertera di pikirannya. Jawabannya hanya ada disana, pikirnya. Langsung saja dia mengambil handphonenya dan menelpon sahabatnya itu.
" Dina, ayo angkat Din " Veny mulai panik
Veny terdiam, mulutnya setengah menganga, selama beberapa detik dunia serasa berhenti bergerak, matanya tertuju pada sesuatu, telinganya bereaksi. Suara handphone yang jelas bukan miliknya berbunyi di dalam tasnya . . .
No comments:
Post a Comment