Sore itu cerah tak berawan, bahkan bayang-bayang bulan yang akan muncul sudah bisa dilihat dengan mata telanjang. Aroma angin musim panas yang khas dapat langsung memenuhi hidung dalam sekali tarikan nafas. Udara dingin yang menjadi identitas tempat ini juga sudah mulai menusuk. Kendaraan yang berlalu-lalang memadati jalanan saat itu... ya memang ini adalah saat-saat para pekerja pulang kerumah mereka masing-masing. Tumpukan sampah yang cukup memuakkan mata juga sempat sempat terlihat di sudut-sudut jalan. Yah bagaimanapun inilah Malang, kota yang dicintai banyak orang karena selain udara yang tidak sepanas di kota-kota besar kota ini juga terkenal dengan aneka kafe dan kulinernya.
Akan tetapi, nampaknya hal-hal tersebut yang dapat membuat turis dari mancanegara tertarik sekalipun tidak berpengaruh pada Veny, gadis SMA berambut hitam panjang yang dikepang satu di belakang dan berkacamata yang baru menginjak tahun pertamanya di sekolah. Dia sudah terbiasa dengan suasana Kota Malang yang seperti ini, maklum sejak lahir memang dia tidak pernah meninggalkan kota yang sempat mendapatkan title “kota bunga” itu. Saat-saat pulang sekolah seperti itu selalu membuat Veny sebal karena tiap sore dia harus berjalan kaki dari sekolah ke rumah yang jaraknya hampir 7 Kilometer. Orang tuanya masih belum mengijinkan dia untuk membawa sepeda motor sendiri dengan alasan keamanan. Meski tiap hari dia harus selalu pulang dengan badan penuh keringat bercucuran dia tetap tidak pernah protes kepada orang tuanya. Setelah beberapa puluh menit berjalan, akhirnya dia sampai di rumahnya. Rumah tersebut terletak di ujung sebuah jalan dimana depan rumah menghadap langsung ke jalan raya dan di samping rumah terdapat sebuah gang kecil yang hanya bisa dilewati oleh pejalan kaki. Begitu sampai dirumah Veny langsung menuju kamarnya untuk menaruh barang-barangnya dan beristirahat sejenak.
“Sudah pulang nak?” suara sang Ibu yang lembut dan setengah berteriak samar-samar terdengar dari luar kamar.
“iya bu, baru aja Veny pulang. ” jawab Veny sembari menata barangnya
“yaudah kamu istirahat dulu aja, habis itu langsung mandi.”
“Iyaaaaa.”
Tanpa berpikir dua kali Veny langsung merebahkan tubuhnya yang tingginya sekitar 160 cm ke kasurnya. Sembari menyamankan diri, Veny melihat sekeliling kamarnya dimana kamar tersebut terlihat sangat rapi dan bersih, dicat dengan warna merah muda kesukaannya, dilengkapi dengan satu lemari buku, satu lemari pakaian, kasur dan meja belajar lengkap dengan alat tulis dan lampu belajar di satu sisi kamar tepat di bawah jendela kamar yang mengarah ke gang sempit disamping rumah. Lantai kamarnya beralaskan karpet tipis bergambar beruang putih yang menutupi sebagian lantai putih di bawahnya. Beberapa saat kemudian pemandangan kamarnya menjadi buram dan akhirnya gelap……
Akan tetapi, nampaknya hal-hal tersebut yang dapat membuat turis dari mancanegara tertarik sekalipun tidak berpengaruh pada Veny, gadis SMA berambut hitam panjang yang dikepang satu di belakang dan berkacamata yang baru menginjak tahun pertamanya di sekolah. Dia sudah terbiasa dengan suasana Kota Malang yang seperti ini, maklum sejak lahir memang dia tidak pernah meninggalkan kota yang sempat mendapatkan title “kota bunga” itu. Saat-saat pulang sekolah seperti itu selalu membuat Veny sebal karena tiap sore dia harus berjalan kaki dari sekolah ke rumah yang jaraknya hampir 7 Kilometer. Orang tuanya masih belum mengijinkan dia untuk membawa sepeda motor sendiri dengan alasan keamanan. Meski tiap hari dia harus selalu pulang dengan badan penuh keringat bercucuran dia tetap tidak pernah protes kepada orang tuanya. Setelah beberapa puluh menit berjalan, akhirnya dia sampai di rumahnya. Rumah tersebut terletak di ujung sebuah jalan dimana depan rumah menghadap langsung ke jalan raya dan di samping rumah terdapat sebuah gang kecil yang hanya bisa dilewati oleh pejalan kaki. Begitu sampai dirumah Veny langsung menuju kamarnya untuk menaruh barang-barangnya dan beristirahat sejenak.
“Sudah pulang nak?” suara sang Ibu yang lembut dan setengah berteriak samar-samar terdengar dari luar kamar.
“iya bu, baru aja Veny pulang. ” jawab Veny sembari menata barangnya
“yaudah kamu istirahat dulu aja, habis itu langsung mandi.”
“Iyaaaaa.”
Tanpa berpikir dua kali Veny langsung merebahkan tubuhnya yang tingginya sekitar 160 cm ke kasurnya. Sembari menyamankan diri, Veny melihat sekeliling kamarnya dimana kamar tersebut terlihat sangat rapi dan bersih, dicat dengan warna merah muda kesukaannya, dilengkapi dengan satu lemari buku, satu lemari pakaian, kasur dan meja belajar lengkap dengan alat tulis dan lampu belajar di satu sisi kamar tepat di bawah jendela kamar yang mengarah ke gang sempit disamping rumah. Lantai kamarnya beralaskan karpet tipis bergambar beruang putih yang menutupi sebagian lantai putih di bawahnya. Beberapa saat kemudian pemandangan kamarnya menjadi buram dan akhirnya gelap……
No comments:
Post a Comment