Thursday, February 4, 2016

Who's who (Indonesian ver.) - Ch 7

       Musim panas datang lagi tahun ini. Angin yang membawa hawa panas mulai terasa setiap harinya. Diantar Bagas, Veny berangkat ke sekolahnya pagi-pagi sekali, dia baru ingat ada tugas yang harus dia selesaikan di sana bersama Bagas. Setelah sampai disana, keadaan sekolah masih sangat sepi. Sebagian ruang kelas masih terkunci, kecuali ruang kelas Veny karena memang ruangan murid kelas 2 sudah dibuka saat itu. Setelah mereka masuk ke ruangan, ternyata benar hanya mereka berdua yang sudah datang. Langsung saja Veny mengeluarkan alat-alatnya begitu juga Bagas.

             " Gas, kamu yang bikin modelnya ya, aku urus slide presentasinya "


             " Oke siap "


        Hanya dengan waktu yang singkat, pekerjaan mereka sudah hampir selesai. Veny memandang ke arah luar jendela. Matahari sudah mulai terlihat sepenuhnya. Jumlah murid yang datang juga sedikit demi sedikit semakin bertambah. Udara pagi yang sejuk di dalam kelas mulai tergantikan dengan kehangatan dari luar. Akhirnya, selesai sudah tugas mereka dan dengan segera mereka berdua membereskan semuanya sampai bersih. Beberapa menit kemudian, bel sekolah berbunyi. Kelas mulai terisi penuh dan saatnya Veny dan Bagas menempati tempat duduk mereka. Sesaat sebelum mereka duduk kepala Bagas mendekati telinga Veny dan berbisik . .


              " Ini tentang Dina... sepulang sekolah di atap sekolah "




***

         Apa maksud Bagas tadi pagi? apa yang dia ketahui dari Dina. Veny tidak habis pikir, untuk sekarang dia hanya bisa menunggu Bagas datang di atap sekolah. Sambil menunggu, dia ternyata menikmati suasana di sini. Matahari senja perlahan mulai enggan menunjukkan sinarnya, membuat langit berwarna keemasan sekarang. Wajah Veny terasa dibelai lembut oleh angin sore ini, terasa agak dingin namun menenangkan. Suasana ini begitu damai, pikirnya. Akan tetapi, tepat setahun yang lalu, di musim yang sama, suasana yang sama, dia masih mempunyai seseorang...ya seseorang yang penting baginya. Dia masih bisa mengingat semuanya seolah-olah itu semua baru saja terjadi kemarin. Hal yang tidak kalah menyakitkan dari kematian sahabatnya adalah saat dia harus bertemu dengan ibunya Dina. Bagaimana tidak? setelah semua kebohongan itu, dimana tentunya beliau menunggu kepulangan putrinya itu yang tak kunjung pulang, Veny malah membawa sesuatu yang menyedihkan alih-alih sebaliknya. Dia teringat setelah kejadian itu, keluarga Dina pindah rumah ke Bandung, tempat yang jauh dari sini. Veny tidak bisa menyalahkan mereka, kejadian itu pastilah sangat menjadi pikiran jika keluarganya tetap tinggal disini. Meskipun begitu, sesekali ditengah-tengah kesibukan sekolahnya Veny tetap in-contact dengan mereka sekedar bertukar kabar. Veny menoleh kebelakang, dilihatnya Bagas berlari ke arahnya dengan membawa tas yang lebih penuh dibandingkan saat berangkat tadi pagi.

            " Kok lama, kamu kema- "

            " Ini yang akan menjelaskan ", potong Bagas sembari mengeluarkan laptopnya dari dalam tas.

            " Apa ini? "

            " Kamu tahu kan aku masih penasaran dengan kematian Dina, jadi aku mengambil ini diam-diam "

             " Tapi ap- "

             " Rekaman CCTV di ruang perpustakaan "

            " Bagaimana bisa kamu mendapatkannya? lagipula apa yang bisa dibuktikan dari rekaman itu? memang aku belum pernah menontonnya tapi pasti ini sudah diperiksa polisi juga kan? ", cetus Veny.

            " Tidak, video yang ini tidak diperiksa. Mereka hanya memeriksa video yang tanggal dan waktunya adalah terakhir kali kamu bersama Dina. Kalau kau tanya darimana, aku mengambilnya diam-diam barusan di ruang penjaga, aku ambil beberapa video pasca kejadian itu "

            " Lalu... "

            " Tonton sajalah "

        Bagas memutar video itu, untuk sekian bagian tidak ada hal yang mencolok. Sejauh ini yang mereka lihat hanya aktivitas biasa di perpustakaan. Beberapa saat kemudian Veny menjerit,

            " STOP! "

         Bagas yang kaget langsung menekan tombol pause. Lalu mereka berdua sadar, di rekaman itu muncul Veny. Ini pasti hari dimana Veny mencari-cari Dina. Tapi tiba-tiba saja video tersebut seperti rusak dan sulit untuk dilihat.

            " Gas, kenapa begini? "

            " Saat aku membawa CD ini kesini aku gugup dan asal lari jadi ada beberapa CD yang jatuh, mungkin karena itu kualitasnya jadi buruk "

            " Yaudah gakpapa masih bisa dilihat juga kan "

         Di rekaman itu terlihat Veny yang menaruh tasnya secara sembarangan. "INI DIA!", sahutnya dalam hati. Kalau dia melihat rekaman ini dia pasti bisa mengetahui siapa yang menaruh HP Dina ke dalam tas miliknya. Terlihat disitu Veny menghilang dari layar, pasti itu disaat dia sedang menelusuri ruangan itu. Semakin lama rekaman tersebut semakin susah dilihat, namun mereka tetap berusaha untuk memperhatikan setiap detiknya. Tak lama kemudian, datang saat-saat yang ditunggu Veny, dia melihat siluet orang mendekati tasnya, menyentuhnya. Veny sekarang duduk dengan sangat tegak dan wajahnya semakin mendekati layar. Di situ terlihat orang itu membuka tas milik Veny, lalu dia memasukkan sesuatu ke dalamnya, yang Veny percayai bahwa benda itu adalah HP milik Dina.

            " Apa itu HP milik Dina Ven? "

            " Pastinya begitu, tapi siapa dia, sama sekali tidak terlihat dengan jelas di rekaman ini "

         Veny sudah hampir menyerah karena dia tidak bisa mengetahui siapa orang itu. Tapi kemudian ada yang aneh, orang itu tidak segera meninggalkan tas Veny, dia memasukkan sebuah yang terlihat sudah digulung. Aneh, yang hanya Veny temukan di tasnya adalah HP Dina tidak ada yang lain.

             " A-apa itu? Tali? "

             " Lebih tepatnya ini... "

         Bagas mengeluarkan sesuatu yang lain dari dalam tasnya, ternyata benar itu adalah sebuah tali tambang yang panjangnya sekitar 2 meter. 

             " Tapi aku gak ngerti, aku sama sekali nggak lihat benda itu di tasku "

             " Aku tahu Ven, coba kamu lihat itu "

          Veny kembali menaruh pandangannya ke layar laptop, orang yang menaruh HP Dina dan tali itu sudah tidak nampak di rekaman, tasnya juga sudah dalam keadaan rapi seperti yang Veny bingungkan saat itu. Veny sudah menebak-nebak siapa yang akan mendekati tasnya berikutnya, siapa lagi kalau bukan dia. Ternyata bukan! ada orang lain lagi yang mendekati tasnya. Veny semakin bingung dan penasaran. Tiba-tiba rekaman itu berhenti.

              " Maaf hanya ini yang aku temukan "

              " Aku nggak paham dengan bagian terakhirnya "

              " Begini Ven - ", Bagas menutup laptopnya dan mulai menjelaskan.

              " Nampaknya orang misterius yang menaruh HP Dina ke dalam tasmu juga memasukkan tali ini ke dalamnya. Tapi sayangnya, memasukkan sebuah tali ke dalam tas seseorang terlalu mencolok bagi orang lain. "

              " Jadi maksudmu ada yang mengeluarkan tali itu dari dalam tasku? "

              " Ya, dan orang itu adalah aku makanya tali itu ada bersamaku sekarang "

              " Tu-tunggu dulu, berarti kamu tahu siapa yang melakukannya? orang misterius itu? "

              " Tidak, saat aku disana tidak ada siapa-siapa di dekat tasmu "

              " Lalu bagaimana kamu yakin kalau tali itu bukan barang yang memang dari dalam tas itu? kan kamu nggak melihat ada orang mencurigakan yang memasukkannya "

              " Pertama, saat itu aku belum kenal kamu kan? jadi aku tidak tahu siapa pemilik tas itu. Keadaan perpustakaan waktu itu sedang sepi, aku hanya melihat segelintir anak saja disana yang salah satunya pasti adalah kamu. Kedua, meskipun tasmu dalam keadaan rapi namun peletakkan tali itu terkesan dipaksakan, dari desainnya sudah jelas itu tas perempuan, tidak mungkin seorang perempuan meletakkan barang seceroboh itu apalagi itu bukan barang yang dibutuhkan di sekolah. "

              " Be-begitu, itu menjelaskan kenapa HP Dina juga tidak kau ambil, itu pasti karena handphone adalah hal yang wajar dibawa kan? apalagi saat itu HP-ku sendiri sedang di kantongku pasti tidak akan ada yang tahu kalau HP di dalam tas bukan punya pemilik tas. Tapi apakah kedua alasan itu cukup, Gas? "

               " Ada satu hal lagi yang mencolok, ini.... "

        Bagas menunjuk pada sebuah bagian di tali itu. Meskipun samar tapi masih bisa dilihat dengan mata jika melihat dari jarak dekat.

               " Darah!? ", Veny tersentak kaget

              " Kamu tahu maksudnya ini kan? aku sudah melihat foto Dina saat ditemukan dari temanku, nampaknya inilah yang menyebabkan lehernya juga mengeluarkan darah. Lalu ada satu lagi..", Bagas merogoh sakunya dan membuka HPnya 

               " Ini foto tempat Dina ditemukan, kau tahu kan? ruangan kecil di dalam perpustakaan, di dalam tempat itu ditemukan sebuah cutter yang berlumuran darah "

               " Maksudmu Dina dibunuh dengan menggunakan tali dan cutter ini? "

               " Sepertinya begitu "

               " Kenapa kamu sampai sejauh ini- "

               " Aku hanya ingin membantu pacarku saja, aku tahu kamu masih penasaran dengan apa yang terjadi dengan Dina, dan aku tidak tahan melihat kamu sedih setiap hari meskipun kamu tidak menunjukkannya secara langsung. "

               " Bagas.. terimakasih ya, tapi jangan sampai kamu kenapa-kenapa juga. Aku takut pelakunya masih ada di sekolah ini dan dia mengetahui kalau kamu tahu sebanyak ini "

               " Ya aku tahu itu. Tapi tentang orang yang kamu katakan itu, admin perpustakaan, aku belum pernah bertemu dengan dia, bahkan semua anak yang aku tanya tidak ada yang tahu "

               " Mungkin dia sedang bersembunyi, aku tahu dia orang yang ada di balik ini semua "

               " Tapi apa motif dia Ven? bahkan Dina saja baru masuk sekolah ini kan? dia tidak mungkin mengenal Dina "

               " A-aku juga tidak tahu "

        Langit sudah gelap sekarang, sekitar hampir 2 jam mereka disini. Bagas beranjak berdiri begitu juga dengan Veny. Mereka bersiap-siap pulang, sampai Veny ingat sesuatu...

               " Ah, charger laptopku tertinggal di kelas "

               " Apa? kalau gitu ayo kita ambil "

               " Biar aku sendiri aja, kamu tunggu aku di motor aja ya ", ucap Veny sambil berlari menjauh

         Dasar, sempat-sempatnya dia meninggalkan barangnya mana hari sudah gelap juga, sesal Veny dalam hati. Setelah sampai di kelasnya, dia beruntung kelas belum dikunci. Segera dia masuk dan mencari-cari chargernya. Veny mencoba menyalakan lampu kelas juga, namun sepertinya listrik kelas itu sedang tidak stabil sehingga lampu menyala dengan redup. Akhirnya, dia menemukan apa yang dia cari, segera dia memasukkannya ke dalam tas.

                " Belum pulang? tidak baik pulang selarut ini "

          Veny sangat terkejut, dia langsung memutar badannya. Apa yang ada di hadapannya, dia tidak bisa percaya.

                " Kk-Ka-Kamu "

          Orang itu tidak menjawab, namun di bawah sinar redup di kelas itu wajahnya tampak menyeringai. Kenapa ada dia disini? sekarang? padahal sudah setahun lamanya sejak Dina ditemukan dia tidak pernah muncul. Veny mulai berkeringat saking takutnya, kakinya mulai lemas.

              " Kapan terakhir kita bertemu? oh hari itu ya.. Ngomong-ngomong, apa yang dikatakan pacarmu sungguh menarik, benar-benar orang yang cerdas. "

               " A-apa, kamu mendengarnya? Jadi benar kamu pembunuh Dina!! ", Veny memberanikan diri
               
               " Entahlah.. ", sambil mengatakan itu dia keluar ruangan.

               " Tu-- "

          Veny langsung mengejarnya, si admin itu lari dengan cepat. Tapi ini kesempatan Veny, meski dia tahu ini berbahaya dia tetap berlari mengejar sekuat tenaga. Terus berlari, mereka berdua melewati lorong-lorong gelap sekolah, hanya sinar bulan yang melewati jendela yang menyinari jalan mereka. Tidak ada waktu untuk meminta tolong kepada penjaga sekolah, Veny harus menangkap orang itu sekarang juga. Akhirnya, mereka berdua hampir sampai di tangga menuju atap sekolah, tapi dengan cepat admin itu menghilang di belokan tangga. 

                " Tidak mungkin..kemana dia ", nafas Veny tersengal-sengal kelelahan.

            Veny terus mencoba mencari tapi dia sudah tidak bisa mendengar langkah lari dari admin itu. Dia diam sejenak, namun hanya nafasnya sendiri yang terdengar. Veny sudah lelah, meski berat rasanya dia akhirnya menyerah. Dia mulai berbalik arah, hendak menyusuri jalan kembali, sampai..

                " Ve-Veny... "

            Parau, sangat parau, kalau saja ini siang hari mungkin suara itu tidak akan terdengar. Veny mencari sumber suara itu yang memanggil namanya. Dia tidak mengenal suara siapa itu, suaranya terdengar aneh. 

                " Veny, aku mohon.... jangan cari tahu siapa dia ", sumber suara itu semakin dekat.

            Veny kembali menaiki tangga ke arah atap sekolah. Sesuatu yang pekat, hangat, sedikit berbau menetes di pipinya. Veny mendongak keatas.
"Tergantung di lehernya tali yang beberapa menit yang lalu dia lihat. Tali itu tergantung di pegangan tangga yang berderit. Sesosok laki-laki bertubuh tinggi berayun pelan. Mulutnya setengah terbuka.Matanya melotot. Wajahnya mulai terlihat kebiruan. Perempuan yang melihat itu hanya membeku, pupil matanya mengecil. Beberapa saat kemudian, ayunan tubuh itu semakin pelan dan akhirnya berhenti, bersamaan dengan teriakan si perempuan."

No comments:

Post a Comment