"
Gas, Bagas.. Bangun Gas ", seseorang memanggil namanya
" Ah, kamu put "
" Ah, kamu put "
" Apanya yang "ah kamu put", kamu tidur mulai pelajaran terakhir tadi "
" Hah!? sudah jam segini? udah pulang sekolah dong ", Bagas langsung bangkit dari kursinya
" Hhh.. dasar, yaudah pulang duluan ya "
Bagas baru sadar dia tertidur cukup lama, sepertinya dia kelelahan begadang tadi malam. Kelas sudah kosong, lorong sekolahpun juga sudah agak sepi. Setelah selesai membereskan barangnya, dia langsung keluar dari kelas dan ingin segera pulang. Tidak biasanya dia tertidur di kelas. Sebagai anak yang selalu mendapat nilai bagus, tertidur saat kelas sepertinya agak sedikit tidak lazim. Di dalam tidurnya tadi dia juga mendapat mimpi yang aneh, meskipun dia juga tidak ingat pastinya. Setelah sampai di parkiran dia segera menyalakan motornya dan pulang ke rumah.
Ternyata rumahnya masih sepi, tidak ada orang sama sekali. Memang ibunya bekerja full-time semenjak dia kehilangan ayahnya, sedangkan adiknya pasti masih mengikuti les diluar. Begitu masuk ke dalam rumah, dia menuju dapur membuat makan malam untuk ibu dan adiknya. Dia masih terpikir dengan kejadian memalukan tadi siang, mungkin sebagian orang beranggapan bahwa tertidur saat pelajaran adalah hal yang wajar, namun untuk Bagas hal itu tidak boleh sampai terulang lagi. Semenjak ayahnya meninggal, ibunya harus banting tulang setiap hari, penghasilan juga tidak seberapa, oleh karena itu dia ingin segera lulus dari SMA dengan nilai sempurna dan masuk ke universitas menggunakan beasiswa dengan begitu beban ibunya tentu akan sangat berkurang. Selesai memasak, dia makan bagiannya dan membungkus makanan untuk ibu dan adiknya nanti. Bagas lalu naik ke lantai 2 dan masuk ke kamarnya.
***
Hari berikutnya
entah kenapa dia ingin pergi ke perpustakaan siapa tahu di sana ada novel ber-genre
misteri kesukaannya. Saat sampai di sana dia melihat hanya beberapa anak saja
yang sedang membaca. Sebelum dia menuju rak buku, ada sesuatu yang menarik
perhatiannya. Sebuah tas yang jelas tas perempuan tergeletak rapi di meja dekat
tempat administrasi. Bukan itu, yang menarik perhatiannya adalah tas itu
seperti dijejalkan sesuatu yang membuat seakan-akan tas itu diisi dengan paksa.
Dia mendekati tas itu, tali ini ternyata tali tambang. "Tapi kenapa harus
ada tali tambang di tas perempuan?", pikirnya. Setelah dia amati dengan
seksama, tali itu mempunyai 2 warna.
" Apa ini? darah? ",
sambil meraba-raba tali itu.
Entah darimana ia
berpikir kalau tali berlumuran darah dan tas ini bukan dari orang yang sama.
Dia berpikir pasti anak yang punya tas ini akan takut jika ada benda seperti
ini di tasnya. Tanpa pikir panjang dia keluarkan tali itu dari tas tersebut dan
membawa tali itu bersamanya kembali ke kelas.
***
Besoknya dia sekolah seperti biasanya, tidak ada yang spesial. Hari-hari yang
berjalan seperti biasanya, dia juga sudah mulai melupakan kejadian saat dia
menemukan sesuatu di perpustakaan kemarin.
" Ini aku kembalikan,
terimakasih ya ceritanya bagus banget "
" Untung deh kalau kamu suka, aku masih punya banyak di rumah kalau kamu mau pinjam "
" Okeedeh "
Bagas memang
selalu suka dengan novel yang bertema misteri atau apapun yang bisa membuatnya
berpikir. Dia juga suka dengan permainan catur yang biasa dia lakukan saat
waktu senggang. Saat waktu istirahat tiba, Bagas hendak pergi ke kantin
sekolah. Seperti biasa keadaan kantin penuh sesak, perlu waktu beberapa saat
sampai dia mendapatkan yang dia mau. Disaat dia akan kembali ke kelasnya ada
sesuatu yang menarik perhatiannya. Seorang anak perempuan terlihat gelisah
mondar-mandir di depan kelasnya, padahal ini sedang jam istirahat kenapa dia
segelisah itu? apa dia akan ada ujian setelah ini? pikirnya.
" Um, kamu baik-baik aja? apa ada yang hilang? "
" A-ah, nggakpapa kok hehe ", anak itu terlihat terkejut dengan kehadiran Bagas.
" Oh, oke
kalau gitu, ini jam istirahat loh apapun yang sedang kamu pikirkan try to
relax for a while, okay? "
" Hm, o-oke "
Setelah diperhatikan ternyata anak itu
terbilang cantik, dengan tinggi sekitar 160 cm, rambutnya hitam panjang dan
dikepang satu, serta memakai kacamata yang membuatnya nampak lebih manis. Bagas
tidak mau mengganggu dia lebih jauh, dia berjalan kembali ke kelasnya. Beberapa
saat kemudian bel berbunyi dan pelajaran dimulai kembali.
Setelah
beberapa jam berlalu, akhirnya pelajaran hari ini usai. Bagas bergegas
membereskan barang-barangnya dan ingin segera pulang. Dia berjalan menuju
tempat parkir. Tiba-tiba Bagas berhenti dan memandang ke lantai atas. Entah
kenapa sepertinya sedang ada keramaian disana. Dia naik untuk melihat apa yang
terjadi. Ternyata kegaduhan itu berasal dari arah perpustakaan, banyak sekali
orang disana mulai dari murid hingga para guru dan kepala sekolah. Bagas mendekat,
ternyata disana juga ada beberapa orang polisi. "Apa yang terjadi?",
tanyanya dalam hati. Dia lantas bertanya kepada beberapa orang anak yang ada di
tengah kerumunan itu. Bagas tidak mempercayai dengan apa yang dia dengar,
bagaimana mungkin kejadian seperti ini bisa terjadi. Kemudian dia mendengar
seseorang berteriak...
" DIMANA
DIA? HARUSNYA DIA YANG BERJAGA DISINI KAN? HARUSNYA DIA TAHU APA YANG TERJADI
DISINI "
" SIAPA LAGI? JELAS ADMIN PERPUSTAKAAN KAN? BUKANKAH DIA YANG SELALU PUNYA AKSES KE SINI? "
" AKU AKAN BERTANYA LANGSUNG PADANYA! "
Bagas
menoleh ke arah suara itu, ada seseorang yang membelah kerumunan itu. Ternyata
itu anak yang dia temui saat istirahat tadi. Dia terlihat mencari-cari seseorang,
tapi dirinya terlihat tidak terkendali sama sekali. Entah kenapa, Bagas juga
jadi ikut mencari seseorang itu padahal dia tidak tahu siapa dan seperti apa
orang yang dicari. Dia melihat anak perempuan itu juga nampaknya menyerah
dengan usahanya, sepertinya dia tidak dapat menemukan apa yang dia cari,
beberapa saat kemudian anak itu terlihat lemas dan akhirnya pingsan. Bagas
langsung berlari menghampiri anak itu.
" He-hei kamu kenapa? tolong siapa saja bantu aku membawanya! "
Dibantu dengan
beberapa anak, dia membawa anak itu ke ruangan UKS. Setelah itu, dia
menyerahkan semuanya kepada guru disitu. Lalu dia kembali ke perpustakaan,
untuk melihat lebih dekat apa yang terjadi. Dilihatnya perpustkaan sudah terisi
dengan lebih banyak polisi. Dia menghampiri mereka, menanyakan beberapa
pertanyaan. Mereka mengatakan belum menemukan apapun untuk diperiksa. Kemudian,
Bagas penasaran dengan tempat anak yang meninggal itu ditemukan. Kecil, ruangan
ini seperti sebuah tempat menyimpan buku usang, hanya saja tidak ada buku
disitu, hanya percikan darah yang tertera di dindingnya.
" I-ini, mungkinkah... "
Didalam
ruangan kecil itu, dia menemukan sebuah cutter yang berlumuran darah dan
dengan segera dia menyerahkan itu kepada polisi. Setelah itu, mereka mulai
menyelidiki tempat ditemukannya Dina .Beberapa saat kemudian, pemeriksaan hari
itu diakhiri. Mereka belum menemukan siapa yang membunuh anak yang bernama Dina
itu. Karena sudah tidak ada yang bisa dia lakukan, Bagas mengambil tasnya dan
bergegas untuk pulang. Sebelum dia meninggalkan sekolah, dia melihat ke arah
jendela UKS dan bertanya-tanya apakah anak itu baik-baik saja.
***
Saat itu, musim hujan sudah mulai datang. Angin dingin ini serasa memperparah suasana
hatinya. Setelah dia bercerita beberapa hal tentang dirinya, dia mulai
terisak-isak. Bagas hanya memperhatikan di sebelahnya. Mereka berdua sedang
duduk di sebuah kursi di tepi lapangan basket . Sekarang hari Minggu, tidak ada
yang datang ke sekolah. Bagas ke sinipun kebetulan hanya untuk menumpang wifi
gratis. Namun siapa sangka anak perempuan yang dia temui saat itu juga ada di
sini.
" Lalu, apa yang akan kamu
lakukan? ", Bagas mulai percakapan lagi agar anak itu berhenti menangis.
" Entahlah, aku juga tidak tahu
"
" Begitu ya... Oh ya, pada hari itu
siapa yang kamu cari? "
" Maksudmu waktu istirahat itu? aku
sedang bingung karena sahabatku Dina itu tidak pernah muncul lagi di sekolah
bahkan di rumahnya, jadi aku sangat khawatir. "
" Tidak, maksudku saat di
perpustakaan "
Seketika
ekspresi anak itu berubah menjadi tatapan benci, dia nampak enggan menjawab dan
berhenti sejenak. Setelah beberapa saat dalam diam akhirnya dia menghela nafas
dan menjawab pertanyaan Bagas.
" Seorang admin perpustakaan
"
" Kenapa kamu cari dia?
"
" Aku juga tidak tahu, tapi
harusnya dia kan yang bertanggung jawab dengan ruangan itu, harusnya dia tahu
sesuatu. "
" Perkataanmu itu, seakan dia
yang membunuh sahabatmu "
" Aku nggak tahu, tapi
sebelum aku melihat tubuh Dina aku berpapasan dengannya di tengah-tengah
kerumunan, tapi setelah itu dia menghilang entah kemana. "
" Benar juga itu agak
mencurigakan, lagipula kamu tadi cerita kalau Dina itu ke perpustakaan untuk
melihat orang itu kan? Memang benar katamu, orang itu pasti tahu sesuatu.
"
Bagas
menyilangkan kedua tangannya. Pandangannya mengarah ke langit mendung saat itu.
Dia mulai berpikir apa yang diceritakan anak itu. Meskipun dia tahu ini bukan
urusannya, entah kenapa dia juga ikut penasaran. Akhirnya, dia beranjak dari
duduknya dan membersihkan celananya. Dia memutar badannya menghadap anak itu
yang masih menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, terisak sedih. Udara
semakin dingin. Bau ini, dia tahu sebentar lagi akan hujan. Dia kembali melihat
anak itu, mengusap rambutnya perlahan.
" Aku tahu aku tidak ada
hubungannya dengan semua ini, tapi akan kubantu kamu sebisaku, menangis
sekarangpun nggak ada gunanya, kalau memang kamu mencari orang itu dan ingin
tahu semua yang terjadi dengan Dina, aku akan bantu..pasti "
Anak itu setengah terkejut dengan perkataan
Bagas. Tapi entah kenapa dia hanya mengangguk dan juga beranjak dari tempat
duduknya.
" Kamu nggak bawa kendaraan kan?
Ayo aku anterin pulang sekarang, nanti keburu hujan "
Bagas berbalik,
dan berjalan menuju dimana motornya diparkir. Anak itu mengikutinya dari
belakang. Dari kejauhan suara gemuruh petir mulai terdengar, meskipun begitu
dia masih bisa mendengar anak di belakangnya berbicara pelan.
" Terima kasih "
"
Sama-sama, err.. "
"
Veny.. panggil aja aku Veny "
Meski sedikit Bagas bisa melihat sedikit senyum di wajahnya. Bagas tertegun
sejenak, anak itu jauh lebih cantik saat dia tersenyum seperti ini dan dengan
senang dia membalas senyum anak itu.
" Aku Bagas, sama-sama Veny
"
***
Dia sudah punya banyak bukti, dalam rentang waktu setahun ini dia bisa
mengumpulkan sebanyak ini. Tali yang dia temukan di tas Veny, rekaman CCTV
perpustakaan yang dia ambil diam-diam setelah dia mengunjungi ruang penjaga dan
juga foto tempat Dina ditemukan. Sudah saatnya dia katakan semua pada Veny.
Kelas pagi ini sudah hampir dimulai, sebelum dia menuju ke tempat duduknya, dia
membisikkan sesuatu ke telinga Veny.
" Ini tentang Dina... sepulang sekolah di atap sekolah "
***
Sudah selesai, dengan begini semua yang dia tahu sudah dia sampaikan ke Veny.
Satu-satunya hal yang kurang adalah menemukan orang itu, kalau dia bisa ditemukan
maka masalah ini selesai. Bagas beranjak berdiri, begitu pula dengan Veny.
" Ah, charger laptopku tertinggal di kelas "
" Apa? kalau gitu ayo kita ambil ", timpal Bagas
" Biar aku sendiri aja, kamu tunggu aku di motor aja ya "
Bagas melihat Veny berlari menjauh. Tiba-tiba dia ingat sesuatu, hari ini 27
September berarti besok adalah ulang tahun Veny. Bagas sedikit tersenyum sambil
berjalan ke arah tangga turun, tidak bisa menahan rasa penasaran bagaimana
melihat wajah gembira Veny saat dia memberinya kejutan besok.
" Mungkin besok aku harus kasih dia hadiah ", katanya pelan sambil
hendak memasukkan tali tambang tersebut ke dalam tasnya.
" Mungkin juga, kau tak akan sempat melihat wajahnya lagi "
Dia terkejut
tiba-tiba ada seseorang di tangga turun yang gelap itu. Matanya masih belum
terbiasa dengan kegelapan setelah dari luar ruangan tadi. Dia mencari dalam
gelap, memandang ke segala arah, tapi tidak bisa di situ terlalu gelap untuk
melihat sekitar.
" Siapa disitu! "
" Entahlah.. "
Tiba-tiba tali yang ada di tangannya direbut darinya, dan dia merasakan seperti
sebuah pukulan di perutnya. Dia masih tidak bisa melihat dengan jelas. Untuk
kedua kalinya sebuah hantaman mendarat di wajahnya. Bagas meraung kesakitan.
Mungkin saja dia pembunuh itu, pikirnya. Matanya sudah mulai beradaptasi,
meskipun belum jelas dia tahu posisi lawannya. Belum sempat dia membalas,
lehernya serasa tercekik kuat sekali. Dia berusaha meraih lehernya namun
kepalanya serasa dipukul dengan keras. Bagas belum mau menyerah, dia memutar
badannya, berusaha melihat wajah lawannya.
" Si-siapa kamu... "
Nafasnya
sudah sesak sekali, dia masih belum bisa melepas cekikan di lehernya. Sedetik
kemudian, orang itu mendorong dan melemparkan bagas dari atas tangga. Bagas
masih terus berkutat, dia tidak mau berakhir seperti ini. Dia harus mengatakan
sesuatu yang penting kepada Veny. Tidak berhasil, pandangannya mulai buram
sekarang, kepalanya mulai berdesing, dia tidak bisa berpikir jernih,
dipikirannya hanya ada Veny sekarang. Beberapa saat kemudian, dia mendengar
langkah dan suara Veny dari kejauhan. Mengerahkan semua tenaga terakhirnya, dia
memanggil nama seseorang di pikirannya itu...
No comments:
Post a Comment