Pada hari itu, di lapangan sekolah, sejauh mata memandang hanya terlihat orang-orang yang menundukkan kepala mereka, murid, guru, semuanya sama. Bagaimana tidak mereka telah kehilangan seorang figur yang begitu baik di mata mereka, ditambah lagi kejadian seperti ini bukan yang pertama kali di sekolah ini. Secara mengenaskan kedua murid sekolah ini sudah tiada. Veny merasa demikian, tapi kali ini dia berusaha menahan emosi dalam dirinya, dia tidak mau kehilangan kontrol seperti saat dia kehilangan Dina dulu dan dia merasa kalau Bagaspun juga pasti akan lebih senang jika Veny demikian. Setelah dia beberapa saat memandangi Bagas untuk terakhir kali dia perlahan pergi menjauh. Sekarang yang dia butuhkan adalah ketenangan sejenak. Veny hanya mengikuti kemana kakinya membawanya, sampai dia sampai di atap sekolahnya.
Lagi-lagi pemandangan sore hari, keindahannya sama persis seperti apa yang dia lihat saat sedang menungu Bagas kemarin. Veny berjalan ke tepi atap dan duduk dengan kaki menggantung bebas. Matanya memandang kerumunan orang-orang dibawah. Satu persatu dari mereka beranjak pulang. Veny bertanya-tanya apakah dia seharusnya berada di kerumunan itu sekarang alih-alih menyendiri seperti ini. Tetapi, ternyata dengan menyendiri di sini dia bisa menangis semaunya, sepuas hatinya. Dia sudah tidak kuasa membendung air matanya lagi. Hanya dalam hitungan detik pipinya hingga dagunya sudah basah oleh tetesan air mata. Kedua tangannya mengepal satu sama lain di kakinya. Matahari semakin surut cahayanya seakan ikut bersedih, dari bawah terdengar lebih banyak orang yang keluar dari halaman sekolah beranjak pulang. Dengan satu hentakan emosi dan kesedihan yang tak dapat dia tahan lebih lama lagi, dia menangis kencang sembari wajahnya menatap langit nila di atasnya.
***
Seminggu kemudian, Veny sudah bisa melakukan aktivitasnya seperti biasa meskipun terkadang saat malam tiba dia masih sering menangis dalam diam. Jam istirahat sudah selesai, dia beranjak kembali ke kelasnya. Siang itu sedikit mendung, angin juga terasa lebih kencang dari biasanya. Sesaat sebelum dia masuk ke kelas, seseorang memanggil namanya.
" Veny ", tampak seorang guru menyapa dari jauh.
" Oh, iya ada apa Bu Ana? "
" Kamu ada waktu pulang sekolah? ada yang mau ibu bicarakan sama kamu "
" Kebetulan tidak ada Bu "
" Baiklah, nanti Ibu tunggu di ruangan Ibu ya "
Setelah itu, Veny masuk ke kelas dan melanjutkan pelajaran berikutnya sampai selesai.
Sesuai janjinya, sepulang sekolah dia menemui Bu Ana tadi di ruangannya. Dia belum pernah memasuki ruang itu sebelumnya. Ruangan itu cukup luas dengan beberapa rak buku di kanan dan kiri ruangan. Catnya di warna putih bersih dan terlihat seperti ruangan itu baru dibersihkan. Veny kemudian duduk di kursi yang ada di situ.
" Jadi, ada apa Bu? "
" Hmm begini, Ibu tau apa yang sudah menimpamu selama bersekolah di sini. Hanya beberapa pertanyaan yang ingin Ibu tanyakan, kamu keberatan? "
" Sama sekali tidak Bu "
Lalu mereka mulai saling tanya dan bercerita. Pada beberapa bagian cerita Veny beliau nampak terkejut, bingung dan terkadang beliau mendadak terlihat sangat serius. Setelah Veny selesai bercerita hingga kejadian yang menimpa Bagas, dia disuguhi secangkir teh hangat dan beberapa snack. Lalu, Bu Ana melanjutkan pertanyaannya.
" Kamu bilang bahwa pembunuh kedua temanmu adalah seorang admin perpustakaan kita, begitu? "
" Mungkin teman-teman yang lain tidak pernah bertemu dan mungkin Anda juga tidak percaya dengan cerita saya "
" Mungkin ya, mungkin tidak... Menurut ceritamu pertama kali kamu tahu tentang admin itu adalah dari Dina "
" Benar Bu "
" Hmm.. "
Beliau beranjak dari kursinya dan berjalan mengambil sebuah buku yang nampaknya sedikit terlihat usang di salah satu rak.
" Siapa nama lengkap Dina temanmu itu? "
" Dina Arlina "
" Jadi begitu.. Veny, kamu teman sejak kecilnya kan? apa kamu tahu dia punya saudara atau tidak? "
" Yang saya tahu dia memiliki seorang kakak perempuan, itu saja "
" Dan kakaknya itu pernah bersekolah di sini beberapa tahun yang lalu ", beliau menyelesaikan kalimatnya.
" Be-benarkah? "
Ternyata masih ada sesuatu yang Veny belum tahu tentang sahabatnya itu. Tetapi dia masih belum tahu kemana arah pembicaraan ini.
" Lalu apa hubungannya dengan masalah ini Bu? ", Veny melanjutkan bertanya
" Sebenarnya Ibu sudah meneliti masalah ini, tentang Dina, Bagas dan juga Kamu, Veny. "
" Maksudnya? saya masih belum bisa mengerti "
" Selama ini kamu mencari-cari admin itu kan? Ibu rasa Ibu tahu siapa yang kamu cari itu dan dimana dia sekarang. "
Bagaikan tersambar petir, Veny terguncang mendengar kata-kata gurunya itu. Bagaimana tidak, seseorang yang sudah menyebabkan semua ini akhirnya ditemukan dimana keberadaannya. Entah bagimana jawaban yang dia butuhkan tersedia dengan mudahnya sekarang ini. Mau tidak mau Veny merasa sangat lega akhirnya ada juga orang yang mengerti dirinya bahwa admin perpustakaan benar-benar ada. Veny langsung berdiri dan mendekati gurunya.
" Dimana dia Bu? Kalau keberadaannya sudah diketahui ayo kita segera panggil polisi dan membuatnya mengaku! "
" Ini mungkin hanya asumsi Ibu, Ven. Ibu tadi bilang kan kalau Dina mempunyai seorang kakak yang pernah bersekolah di sini beberapa tahun yang lalu. Jadi dugaan Ibu adalah Dina mengetahui adanya admin itu adalah tak lain dari kakaknya sendiri "
" Itu tidak penting Bu, yang penting sekarang kita Ibu tahu kan dia dimana. Ayo segera panggil polisi Bu ", Veny sudah mulai tidak sabar lagi menunggu.
" Lihat ini "
Veny melihat halaman di dalam buku yang dipegang gurunya itu. Dia tidak mengerti buku apa itu tapi sepertinya itu buku jurnal sekolah yang ditulis dengan tangan. Beberapa saat kemudian dia melihat sebuah nama yang tidak terlalu asing baginya disana.
" Dewi Arlina? inikah- "
" Benar, kebetulan mereka punya nama belakang yang sama "
" Lalu kenapa menunjukkan buku ini? "
" Lihat halaman selanjutnya dan kamu akan mengerti "
Veny membalik halamannya dengan hari-hati. Halaman berikutnya juga terlihat sama lusuh seperti tampak luar bukunya. Di situ terlihat lebih sedikit tulisan tangan daripada halaman yang tadi hanya saja ada sesuatu yang ditempel dengan selotip, sebuah potongan artikel koran. Dia mulai membaca judul artikelnya. Perlahan tapi pasti dia terus membaca isi artikel itu. Semakin dia membaca, tubuhnya semakin mengeluarkan banyak keringat, pikirannya mulai tidak karuan sekarang. Dia terus membaca sampai alfabet terakhir. Dia mulai tahu kenapa dia harus melihat buku ini, artikel ini dan menemui gurunya. Dia selesai membaca. Tatapannya kosong sekarang. Perlahan, dia memandang hampa wajah gurunya. Takut bahwa beliau akan lebih memperjelas apa yang sudah dia baca.
" Sejak pertama berdiri, sekolah ini mempunyai kebijakan yang tidak sama seperti sekolah lain, perpustakaan tidak dikelola oleh seorang admin perpustakaan, namun ditangani langsung oleh beberapa guru. Tetapi hanya sekali, kami pernah memiliki seorang admin perpustakaan untuk membantu, saat itu dia juga murid di sini, tahun ketiga . "
Veny tidak tahu harus berkata apa sekarang, pikirannya belum bisa stabil. Meski begitu, gurunya tetap melanjutkan kalimatnya.
" 29 Juli pada tahun 2010, 6 tahun yang lalu. Seorang murid perempuan tahun pertama, selamat dari sebuah kecelakaan yang terjadi saat salah satu bangunan sekolah sedang direnovasi. Dewi, dia bisa selamat dari setumpuk material bangunan berkat seseorang yang menolongnya. "
" Dan orang yang menolongnya itu adalah..."
Gurunya mengambil buku itu lagi dan menunjukkan sebuah nama lain dan foto seorang murid yang tidak dia kenal.
" Fikry, murid tahun ketiga, admin perpustakaan. Dia tewas seketika pada saat itu juga karena luka di kepala. Entah siapa admin yang kamu lihat Veny, tapi yang jelas satu-satunya admin yang pernah ada di sekolah ini, seharusnya sudah tidak ada lagi. "
TO BE CONTINUED
Aku curiga ambek judule Who's who (Indonesian ver.) iki antara terjemahan atau akan diterjemahkan ke bahasa inggris. Hehe. Tapi ndelok jeneng tokoh e koyoke bakal diterjemahkan ke bhs inggris yo.
ReplyDeleteNah, berhubung aku sedang baik hati dan kebetulan stuck ngerjakno KAI, maka kubaca lah cerjangmu ini... dan aku akan sedikit memberikan masukan.
Masukan pertama adalah, lebih sering membaca novel/cerpen/fanfic/etc, karena itu bisa menambah vocabs dan bikin kalimat yang lebih bervariasi. Masio mek main-main tapi gapopo kan menulis dengan indah :"""
Terus, masih banyak kesalahan tanda baca. Nggak krusial se, tapi agak mengganggu.
Contoh (aku njupuk random yo iki):
" Veny ", tampak seorang guru menyapa dari jauh.
" Oh, iya ada apa Bu Ana? "
" Kamu ada waktu pulang sekolah? ada yang mau ibu bicarakan sama kamu "
" Kebetulan tidak ada Bu "
Alangkah indahnya jika ditulis seperti ini:
"Veny," sapa seorang guru dari jauh.
"Oh iya, ada apa Bu Ana?"
"Ada waktu sepulang sekolah? Ada yang mau ibu bicarakan sama kamu."
"Kebetulan tidak ada, Bu."
Untuk kalimat langsung, nggak usah dikasih spasi. " Veny, lalala" <--adalah contoh yang salah. "Veny, lalalala?"<--- benar.
Koyoke iku tok se, lek pekoro awalan imbuhan sepertinya no problem.
Daaann percakapan semacam iku iso dipermanis ambek deskripsi gestur... yoopo yo ngomonge.. pokoke dadi ngene:
Veny Mengangguk, "kebetulan tidak ada, Bu."
naaaah manis kaaaann~~~
Lek masalah ceritane aku nggak banyak komen sih, plotnya ez untuk diikuti masio ada beberapa yang janggal koyok si bagas obok2 tas e veny, eh, iku kan gak sopan. wkwkwk :p
Oke aku wes kesel ngetik dan kate ngerjakno tugas. Semangat berkarya bro~~~
Thanks sarannya sis, terus berkomentar ria yaa :)
ReplyDelete