Sunday, January 31, 2016

Who's who (Indonesian ver.) - Ch 6

       Suaranya semakin parau, keringat benar-benar membasahi tubuhnya sekarang. Dia sudah seperti orang gila sekarang, tidak peduli siapapun itu dia menyingkirkan mereka semua dengan sapuan tangannya demi meraih sahabatnya.

              " DINAA.. DINAAAA!!! "

       Guru itu tahu apa yang harus dia lakukan, dia meletakkan tubuh yang tak bernyawa itu di sebuah sofa. Veny langsung meraih Dina, memeluknya erat-erat, meraung sekeras-kerasnya, menangis sejadi-jadinya. Padahal dia tahu sekeras apapun usahanya memanggil, Dina tidak akan menjawab. Beberapa tangan guru dan teman-temannya memegangi bahunya untuk menenangkan dia, tapi percuma Veny sudah tidak bisa mengendalikan dirinya, dia terus merangkul sahabatnya itu berharap agar Dina bisa membalas pelukannya.

        Andai saja di dunia ini ada suatu istilah untuk menggambarkan perasaan Veny saat itu, mungkin dia bisa sedikit tenang, tapi ternyata yang dia alami saat ini lebih buruk daripada apapun. Veny hanya bisa menangis tersedak-sedak sekarang, suaranya hampir habis, tatapan matanya kosong .  . . sangat kosong. Teman-temannya terus berusaha menenangkannya meski mereka sendiri merasa terkejut dengan kejadian ini. Terlihat dari kejauhan kepala sekolah membawa sekelompok orang dewasa, rupanya polisi dan pihak rumah sakit. Mereka mulai memeriksa jasad Dina dan menyelidiki tempat itu.

             " Kenapa bisa . . ", tiba-tiba Veny berkata pelan pada seorang guru di sebelahnya

             " Kita sama-sama tidak tahu penyebabnya, tapi yang jelas sahabatmu mungkin dibunuh oleh seseorang ", guru itu berusaha memilih kata-kata yang pas.

             " Tapi kenapa? Dina tidak pernah menyakiti seseorang . . kenapa harus dia "

        Tiba-tiba muncul sebuah pertanyaan di pikiran Veny
              
              " Dimana pertama kali Dina ditemukan? "

             " Anehnya dia ditemukan di dalam ruangan kecil di sebelah sana "

         Tanpa harus melihat telunjuk sang guru, Veny sudah tahu dimana tempat yang dimaksud. Tentu saja, ruangan itu adalah ruangan yang pertama kali dilihatnya saat hari pertama dia masuk sekolah. Ruangan dengan pintu yang susah untuk dibuka dan tingginya tidak sebesar pintu pada umumnya. Segera saja dia berdiri dan berteriak.

              " DIMANA DIA? HARUSNYA DIA YANG BERJAGA DISINI KAN? HARUSNYA DIA TAHU APA YANG TERJADI DISINI "

              " A-apa maksudmu Ven? Kamu cari siapa? ", seorang temannya menjawab dengan ketakutan

              " SIAPA LAGI? JELAS ADMIN PERPUSTAKAAN KAN? BUKANKAH DIA YANG SELALU PUNYA AKSES KE SINI? "

              " Tenanglah Veny, kami sama sekali tidak mengerti apa maksudmu ", tangan sang guru mencoba merangkul dan menenangkannya.

              " AKU AKAN BERTANYA LANGSUNG PADANYA! "

         Dengan satu gerakan cepat Veny melepaskan diri dan langsung berlari ke arah dia tadi berpapasan dengan si admin. Dia terus mencari, berlari tanpa henti, melihat di seluruh isi ruangan. Bahkan sampai dia keluar ruangan, sosok yang dia cari tidak ada dimanapun. Dia mencoba bertanya ke beberapa murid yang lain, mereka juga tidak tahu. Veny berhenti berlari, nafasnya tersengal-sengal. Kemana dia? tidak mungkin dia meninggalkan tempat ini, tempat ini harusnya tanggung jawab dia, pikirnya. Veny tidak kuat lagi berpikir apalagi berjalan, namun dia terus melihat sekeliling, tetap berusaha mencari, sampai akhirnya ruangan itu menjadi gelap gulita. . .


------------------------------------------------------------


            Veny terbangun, wajahnya pucat, keringat membasahi wajah cantiknya hingga rambut dan lehernya, nafasnya tersengal pendek. Mimpi itu masih terus datang padanya. Sudah setahun berlalu, namun itu semua masih terasa nyata baginya. Dia bahkan tidak punya tenaga untuk beranjak. Bayangan Dina yang terbujur lemas di depannya saat itu masih membekas di benaknya. Tapi yang benar-benar masih mengganjal di hatinya adalah orang itu, siapa lagi kalau bukan admin perpustakaan. Benar-benar aneh, sejak kejadian itu sampai dengan sekarang, dia tidak pernah menampakkan dirinya lagi. Bayangkan saja, sejak Dina meninggal sama sekali tidak nampak orang tersebut di sekolah. Kenapa pihak sekolah dan bahkan polisi tidak mencurigainya? apakah mereka tidak bisa menemukan orang itu. 

           Didorong sejumlah tenaga, Veny bangkit dari kasurnya. Dia memandang meja belajarnya. Sebuah benda yang pernah dimiliki sahabatnya tergeletak disitu selama setahun tanpa pernah tersentuh lagi. Kalau diingat-ingat dia belum menemukan orang yang meletakkan handphone Dina ke dalam tasnya saat itu. Mungkin kah, orang yang sama?

           Terdengar handphonenya sendiri berbunyi, sebuah pesan. Veny tersenyum kecil, setidaknya dia bisa membuat dirinya rileks sejenak Hari Minggu ini. Bagas . . ya dialah yang bisa benar-benar mengerti dirinya. Rasanya apapun yang Veny rasakan, dia bisa menceritakan semuanya ke Bagas. Setelah membalas pesan tersebut, Veny keluar kamarnya untuk makan malam.

Saturday, January 30, 2016

Who's who (Indonesian ver.) - Ch 5

              " Gara-gara kejadian itu sekolah jadi libur ya "

              " Iya, aku nggak nyangka tahun pertamaku di SMA bakal seburuk itu, semoga aja tahun ini nggak aneh-aneh "

        Sejak sepulang sekolah tadi terlihat kedua murid SMA tahun kedua itu bercakap-cakap. Melewati sejumlah belokan dan gang, mereka terus melanjutkan pembicaraan itu. Salah satu dari mereka bertubuh tinggi, berambut hitam pendek dan berparas tegas, sementara yang satunya bertubuh agak gemuk dengan rambut hitam kecoklatan pendek. Tidak cukup sampai disitu, murid yang berbadan tinggi melanjutkan lagi

              " Memangnya sampai sekarang belum terselesaikan? "

              " Yaahh, bahkan polisi juga menyerah kan. Pihak keluarga dan sekolah juga sepakat untuk menutup kasusnya. ", timpal temannya.

              " Hmm tapi kok aku masih penasaran ya "

              " Haha, gausah sok detektif deh entar badanmu mengecil loh, Gas "

              " Cih, kebanyakan liat Conan rupanya "

           Setelah sampai di sebuah pertigaan jalan mereka berpisah. Rumah Bagas lebih jauh jaraknya dibandingkan rumah temannya tadi. Sesampainya di rumah, suasana disana begitu hening. Yang terdengar hanyalah suara samar dari tetangga di kanan-kiri rumah. Begitu memasuki pintu depan Bagas menemukan selembar sticky note. Tertulis disana bahwa ibu dan adiknya malam ini akan pulang terlambat. Setelah melihat kedalam ternyata di meja makan sudah disediakan makanan untuk Bagas. Setelah itu dia menuju kamarnya di lantai 2. Kamarnya tidak terlalu luas, di dalamnya ada sebuah kasur single, meja belajar, lemari dan sebuah komputer. Di satu sisi ruangan terdapat 1 jendela model kuno yang menghadap lapangan hijau luas di belakang perumahan. Dia menatap keluar cukup lama. Harus dia akui, dia masih penasaran dengan kasus itu. Apakah benar-benar sudah dinyatakan closed case

           Beberapa saat kemudian handphonenya menerima pesan. Dia tertawa kecil melihat pesan dari temannya tadi. " Penasaran boleh, tapi jangan sampai gila ya, kasian doi LOL " . Tapi ada benarnya juga, toh yang dia pikirkan juga sudah lalu. Segera dia membuka sebuah nomor di kontaknya dan mengirim SMS.

" Minggu ini kita jalan yuk, Ven "


Friday, January 29, 2016

Who's who (Indonesian ver.) - Ch 4

        Bagaimana mungkin . . . ini terlalu tidak masuk akal . . .

       Detik ini, Veny melihat handphone yang sangat dia kenal. Ini handphone Dina, pikirnya. Tapi kenapa harus ada disini, di tasnya. Sungguh tidak mungkin disaat pemiliknya entah dimana tetapi handphonenya ada di Veny. Seingatnya dia bahkan tidak mempunyai penyakit psikis kleptomania. Tapi mengapa bisa ada disini.Veny terus memutar otak. Mungkinkah orang lain yang menaruhnya disini? tapi siapa? untuk apa?

         Sedetik kemudian, pikirannya serasa tersambar petir. Perpustakaan!!!
      
        Dia ingat betul tasnya yang secara mendadak menjadi rapi padahal dia melemparnya dengan sembarangan. Kalau memang benar ada orang lain yang menaruh handphone Dina di tasnya, pasti itu saat dia mengunjungi perpustakaan. Nafasnya mendadak menjadi berat, di dalam pikirannya dia mencari-cari siapa kira-kira yang melakukan itu, dan untuk apa. Sampai sebuah suara mengagetkan lamunannya.


               " Veny, ada telfon dari ibunya Dina "

               " Ah, iya bu "

          Untuk apa beliau menelepon malam hari begini, tanyanya dalam hati. Begitu sampai di depan telepon terlihat ibunya yang pergi menuju dapur dengan sedikit kebingungan. Tetapi Veny tidak berpikir apa-apa dan langsung meraih gagang telepon. 

               " Ya tante, ini Veny "

              " Begini Ven, tadi sore tante bingung melihat kamu tiba-tiba berlari seperti itu, apa terjadi sesuatu sama Dina? "

               " E..ee... nggakpapa kok te, Dina lagi belajar nih di kamar Veny hehe"

               " Oh ya, bisa tante bicara sama Dina? soalnya tante telfon ke handphonenya tapi nggak dijawab " 

              " Umm.. Dina.. lagi ke kamar mandi tante ", Veny berusaha keras untuk berbohong meski dengan susah payah.

              " Oh yasudah, bilangin ke Dina kalau memang mau nginep beberapa hari gakpapa tapi jangan lama-lama ya "

                " I-iya te nanti Veny sampaikan kok "


         Sembari dia meletakkan gagang teleponnya dia mulai menyesal di dalam hatinya, kenapa dia berbohong? kenapa dia harus berpura-pura Dina ada bersamanya? kenapa dia tidak katakan bahwa dirinya sendiri juga tidak tahu Dina ada dimana sekarang. Veny berjalan kembali ke kamarnya. Dia tahu bahwa jika memang Dina menghilang, tidak ada cara lagi untuk menghubunginya, handphonenya saja ada di tangan Veny sekarang. Akan tetapi, lagi-lagi Veny harus kesana besok, ketempat yang sama . . .  

--------------------------------------------------------------------

           Jam pelajaran terasa lama hari ini, ditambah lagi cuaca yang sangat panas membuat peluh menetes sedikit demi sedikit sejak pagi tadi. Meskipun begitu tidak ada satupun dari materi yang bisa masuk ke otak Veny. Di pikirannya hanya ada Dina, begitu khawatir sehingga dia seakan-akan ingin langsung keluar kelas sekarang juga dan berlari ke perpustakaan. Dia mengeluarkan handphone Dina dari dalam saku roknya, menggenggam erat-erat benda berwarna pink itu. 


              " Tidak, aku gak boleh panik. Dina pasti baik-baik aja ", dia mencoba menenangkan dirinya sendiri.


           Setelah beberapa jam, akhirnya jam pelajaran usai. Begitu Veny selesai mengemasi barangnya, dia langsung melesat menuju tempat yang ada di pikirannya sejak kemarin. Sesampainya di sana, perpustakaan tidak seperti biasanya. Padat, ramai, namun tidak hanya murid yang ada disana, dia bisa melihat beberapa guru dan staff bahkan kepala sekolah juga ada disana. Tidak peduli apapun yang mereka lakukan, Veny terus bergerak maju. Semakin dekat dengan kerumunan dia bisa mendengar beberapa percakapan di dalamnya : " Kelas 1 ", " Perempuan ", dan juga DINA!!! 

            Begitu mendengar nama sahabatnya disebut, dia langsung memaksa bergerak maju mendorong beberapa kelompok anak dan bahkan guru. Ditengah usahanya untuk masuk kedalam dia berpapasan dengan orang itu lagi. Veny kenal betul sosok itu, kacamatanya memantulkan cahaya di ruangan itu dan menutupi bayangan matanya, seperti biasa. Namun, hari ini dia seperti sedikit berbeda. Masa bodoh dengan itu, dia meneruskan usahanya. Belum 3 langkah dia melanjutkan, seisi ruangan terpecah oleh sebuah teriakan keras. Semua mata sontak menuju ke satu arah begitu juga Veny. Pasti ini mimpi buruk, pikirnya. Matanya tidak bisa berpaling kearah lain. Terasa sesuatu yang begitu berat jatuh ke dalam perutnya. Telinganya berdesing kencang. Suaranya tercekat.
"Sesosok perempuan terkulai lemas di kedua pangkuan tangan seorang guru. Tangannya menggantung bebas seperti tanpa tulang. Warna merah pekat menodai seragam putih bersih dan wajah cantiknya. Tubuhnya menandakan bahwa dia sudah tidak bisa mendengar orang lain memanggil namanya, bahkan sahabatnya sekalipun"

DINAAA!!!! 


Thursday, January 28, 2016

Who's who (Indonesian ver.) - Ch 3

             "Harusnya aku yang marah, kenapa dia yang ngambek dan nggak kasih kabar sama sekali" , geram Veny dalam hati

       Sudah 2 hari sejak hari pertama mereka masuk sekolah, sudah 2 hari juga mereka tidak saling menghubungi satu sama lain. Terakhir mereka berkomunikasi adalah saat Veny mengantarkan Dina ke perpustakaan sekolah. Semakin dipikirkan Veny semakin penasaran kemana Dina sekarang, mungkinkah dia bolos sekolah namun pergi ke perpustakaan hanya untuk melihat si admin? tidak itu tidak mungkin. Tapi, Veny berpikir mungkin ada baiknya dia datang ke perpustakaan, just in case.

       Seperti yang dia duga, tidak ada tanda-tanda Dina disana hanya beberapa kelompok siswa yang sedang membaca buku di meja tengah ruangan. Tak puas dengan hasil pencariannya, Veny melanjutkan melihat isi perpustakaan itu karena terakhir kali dia kesana ruangan masih samar-samar terlihat. Dengan asal dia menaruh tasnya di meja kosong dekat meja administrasi. Lalu dia menelusuri ruangan itu dan sampailah dia ke sebuah pintu kecil berwarna coklat yang tidak berhasil dia buka di waktu yang lalu. Sekali lagi, rasa merinding pada kunjungannya yang terakhir kesini terasa kembali. Segera saja dia memutar badannya dan beranjak pulang. Saat dia hendak mengambil tasnya, ada yang aneh dengan posisi tasnya. Tas itu dalam keadaan rapi padahal dia ingat menaruhnya sembarangan tadi. Tetapi, masa bodoh dengan itu Veny langsung menyambar tasnya dan dia tahu harus kemana dia selanjutnya.

------------------------------------------------------------------------

        Keadaannya sama dengan pertama kali Veny kesini belasan tahun lalu, sebuah rumah sederhana yang nampak asri berpagar hijau, dikelilingi sejumlah pohon yang Veny kenali adalah pohon Jambu. Veny mencoba menekan bel yang ada di pagar rumah tersebut. Tak lama kemudian, dari dalam muncul sesosok wanita berumur 40-an yang mengenakan daster rumahnya, entah kenapa begitu melihat Veny di wajah wanita itu jelas tersirat rasa senang.

               " Permisi Tante, saya mau mencari .... "

               " Ah, Veny ya.. gimana Dina? maaf ya anak tante ngerepotin "

               " A..apa? "

          " Sebenernya Dina nggak pernah tante bolehin menginap di rumah temen, tapi karena di rumahnya Veny ya tante bolehin hehe "

               " E..ee..iyaa hehe, kalau gitu Veny permisi dulu yah baru inget ada urusan penting "

          Tanpa menoleh ke belakang Veny langsung berlari secepat kilat. Apa ini, kenapa ibunya Dina berkata seperti itu? Veny terus berlari sampai kerumahnya. Sesampainya disana dia langsung menuju ke kamarnya dan mengunci pintu. Benar-benar tidak bisa dimengerti. Rasanya semua jadi aneh hari ini, tidak 2 hari ini sejak Veny dan Dina ke perpustakaan itu. 

               " Tenang, aku harus tenang ", dia berkata pada dirinya sendiri.
    
            Lalu dia merekonstruksi semua yang dia alami dari awal, ya semua. Mengapa Dina tidak masuk sekolah, mengapa dia juga tidak ada di perpustakaan, mengapa ibunya berkata seolah-olah Dina ada di rumah Veny, tapi tidak ada jawaban yang tertera di pikirannya. Jawabannya hanya ada disana, pikirnya. Langsung saja dia mengambil handphonenya dan menelpon sahabatnya itu. 

                " Dina, ayo angkat Din " Veny mulai panik

                Veny terdiam, mulutnya setengah menganga, selama beberapa detik dunia serasa berhenti bergerak, matanya tertuju pada sesuatu, telinganya bereaksi. Suara handphone yang jelas bukan miliknya berbunyi di dalam tasnya . . . 



Wednesday, January 27, 2016

Who's who (Indonesian ver.) - Ch 2

          “ AAAAAAAAAAAAAKKKHH... ”

       Veny kaget setengah mati dan langsung memutar badannya. Dia sudah mulai berpikiran negatif, bagaimana jika yang menyentuhnya bukan manusia, bagaimana kalau itu hantu atau semacamnya… namun perlahan Veny dapat melihat sosok yang ada di belakangnya tadi. Seorang laki-laki jangkung dengan rambut acak-acakan dan kacamata yang memantulkan sinar matahari yang masuk sehingga menutupi bayangan matanya.

         “ Kamu anak kelas 1? sedang apa di sini pagi-pagi? ”

         “ eee… anu.. ”

       Veny masih gemetar akibat kekagetannya tadi. Lalu tanpa sadar dia melihat kearah baju orang tersebut. 

          “ admin perpustakaan? ”

         “ hmm.. yaah begitulah.. ” orang itu bergerak sedikit menjauh dari Veny.

        “ eehhh.. maaf tadi saya berkeliling sekolah, kebetulan pintu perpusnya gak dikunci jadi yaaa… penasaran ” sekarang Veny mulai terlihat seperti seorang maling yang sudah tertangkap basah.

       “ yasudah nggak apa-apa tapi lain kali ijin dulu ya kalau mau masuk ”

      Sekarang sinar matahari sudah cukup banyak yang masuk ke ruangan itu sehingga Veny mulai dapat melihat wajah orang ini dengan jelas. Mau tidak mau Veny sedikit terkejut, ternyata orang ini memiliki wajah yang lumayan, apakah ini admin perpus yang diceritakan Dina? Pikirnya. Orang itu memperhatikan Veny sejenak sampai pandangannya beralih ke belakang Ven. Seketika itu juga raut wajahnya berubah dan sedetik kemudian dia langsung berlari kearah Veny.

         “ kamu buka pintu ini? ” dengan sedikit membentak dia menanyai Veny

         “ nn-nggaak kok, pintunya aja susah dibuka ”

        “ kamu gak boleh sembarangan, berbahaya… yaudah segera ke kelasmu ” sembari cepat-cepat menutup pintu itu.

        “ i-iya ”

       Tanpa pikir panjang dengan setengah berlari Veny kembali ke arah kelasnya berada. Dikelas dia sama sekali tidak memikirkan apa yang sudah dia alami pagi ini. 

-------------------------------------------------------------------------

         " Veny, jadi kan? yuk yuk "

         " Kamu beneran jadi kesana? "

         " Loh, gimana sih ya jelas jadi dong kan kamu juga udah janji mau nemenin "

         Setelah kejadian pagi ini Veny jadi agak malas menemaninya, selain malu karena tadi pagi dia sudah bertingkah seperti seorang pencuri, dia juga masih merasakan rasa merinding yang sama saat tangan si admin menyentuhnya tiba-tiba dari belakang.Tapi apa boleh buat, janji tetap janji, mau tidak mau harus dilakukan. 

         " Yaudah, ayo deh tapi bentar aja ya, kayaknya aku juga cuma nunggu diluar" 

         " Kok gitu? emang kamu gak penasaran sama adminnya? "

         " Hmm gimana ya, nggak juga sih... udah aku tunggu aja diluar toh kamu juga cuma bentar "

        Saat itu waktu menunjukkan pukul 3 sore, sebagian besar murid sudah pulang dan hanya menyisakan segelintir saja yang mungkin sedang kegiatan ekstrakurikuler. Sinar matahari senja yang perlahan-lahan surut membuat tembok sekolah yang berwarna putih polos menjadi kuning keemasan. Dina sudah masuk kedalam perpustakaan, meninggalkan Veny sendirian duduk di tangga depan pintu perpustakaan. Dari luar dia bisa mendengar suara beberapa anak yang masih ada di dalam sana. 

           Lama sekali . . .

        Sudah hampir 1 jam berlalu, tapi Dina tidak kunjung keluar dari tempat itu. Apa yang dilakukannya? tanya Veny dalam hati. Setelah itu, Veny beranjak dari duduknya menuju kamar mandi di lantai yang sama dengan perpustakaan. Udara dingin sore itu membuatnya tak bisa menahan keinginan untuk buang air kecil. Tak lama kemudian, dia kembali ke tempat Dina berada. Tapi aneh... dari luar jendela terlihat lampu perpustakaan sudah mati. Veny mencoba masuk kesana namun pintu sudah terkunci rapat. 

            " Masa Dina udah pulang duluan " Veny berbisik pelan 

        Tidak kehabisan ide, Veny langsung mengambil handphone dalam tasnya dan mengirim pesan ke Dina. Sekitar 3 menit kemudian handphonenya bergetar dan dia melihat sebuah pesan yang masuk . . .

   
Aku sudah pulang

Tuesday, January 26, 2016

Who's who (Indonesian ver.) - Ch 1

          Tidak seperti biasa, malam itu dinginnya begitu menusuk bahkan jaket dan selimut tidak dapat memberikan kehangatan yang berarti. Usai mandi sore tadi Veny merasa lebih segar, untungnya hari ini dia belum ada tugas sekolah karena memang minggu-minggu awal hanya digunakan untuk perkenalan antar murid dan guru. Karena itu, Veny dapat menggunakan waktu luangnya ini untuk bermalas-malasan di kasurnya. Tiba-tiba saja ponsel Veny bergetar…


      “Halo Ven, udah tidur? ”

      “Belum Din, kenapa? ”

      “Yaa gapapa sih tanya aja… eh besok temenin aku ke perpus yuk”

     “Hah tumben kamu ke perpus? Kayaknya sejak SD gak pernah lihat seorang Dina pegang buku pelajaran”

     “Aku udah kapok sama jaman-jaman kebodohan Ven haha, lagian kata kakak kelas admin perpusnya cakep abis, makanya sekalian modus hehe

      “Tuh kan pasti ada maunya , yaudah besok aku temenin”

      “Siip emang best friend banget deh haha… yaudah thanks yaa”

      “iyeee”


           Veny tersenyum geli mendengar kelakuan teman sejak kecilnya itu. Mereka sudah berteman sejak umur 6 tahun karena rumah mereka yang memang dekat. Meski begitu mereka tetap mempunyai ciri khas masing-masing. Veny lebih rajin dibandingkan dengan Dina yang bahkan sejak SD dia hampir tidak pernah belajar sama sekali. Selain itu, mereka juga punya hobi dan kesukaan yang berbeda. Tapi bagi Veny tidak ada orang lain selain Dina yang bisa mengerti dia.


          Veny lalu bangkit dari kasurnya untuk sekedar menyiapkan keperluan sekolahnya besok. Lalu dia menutup gorden jendelanya dan mematikan lampu kamarnya. Sekali lagi dia langsung melempar tubuhnya ke kasur dan memejamkan mata…..


          Keesokan paginya, setelah mandi dan sarapan dia langsung menyambar tas selempang warna biru kesukaannya dan berpamitan pada orangtuanya. Dia keluar dari rumahnya. Cuaca pagi itu tidak secerah kemarin, bahkan mendung. Hawa dingin sejak tadi malam juga masih tersisa. Jalanan saat itu masih sepi. Veny sengaja berangkat lebih awal agar dia bisa berkeliling sekolah untuk lebih mengenal lingkungan sekolah barunya.


          Saat sampai di sekolah keadaan sekolah masih sangat sepi hanya satu atau dua anak yang sudah datang, itupun mereka langsung masuk ke kelas mereka masing-masing. Segera saja Veny mulai berjalan keliling sekolahnya. Dengan mengambil arah secara random dia terus menelusuri satu persatu tempat yang ada. Jika diperhatikan dengan seksama sekolah ini lumayan bersih dan nyaman. Kesan mewah juga ditampakkan dari bangunannya yang sudah modern dan dilengkapi dengan 3 tingkat lantai. Selama berkeliing Veny melewati banyak ruang kelas, kamar mandi, laboraturium dan akhirnya… perpustakaan.. ya, ini adalah perpustakaan yang akan dituju Veny dan Dina nanti sepulang sekolah. Sebenarnya dalam diri Veny tidak ada ketertarikan sama sekali dengan apa yang ada di dalam sana, apalagi tentang admin yang katanya cakep. Akan tetapi, entah dorongan dari mana, Veny bergerak maju dan mendekati pintu perpustakaan.


          Aneh…. seharusnya waktu sepagi ini semua ruangan kecuali ruang kelas masih dikunci rapat-rapat, tapi tidak dengan pintu ini. Akhirnya muncul rasa penasaran dalam diri Veny yang membuatnya mendorong pintu itu perlahan-lahan.


       “ Permisi...”


          Dengan pelan Veny mengecek apakah ada orang di dalam. 5 menit berlalu, Veny masih berada di tempat dimana dia baru saja masuk dan tidak ada sedikitpun suara yang membalas ucapannya. Veny mengernyitkan alis dan mendengarkan dengan seksama sekali lagi kalau-kalau ada yang membalas.


       “ Pak satpam kayaknya lupa ngunci deh.”  Veny berbicara dalam hati.


          Akhirnya dia memberanikan diri untuk melihat-lihat isi dari ruangan itu. Ruangan itu memiliki 3 jendela yang langsung menghadap ke arah jalan di samping sekolah dan karena letaknya di lantai 3 maka dari sini dia dapat melihat dengan jelas apa saja yang ada di luar sana. Ruang ini memiliki 5 rak buku besar yang berisi buku yang beraneka macam. Di tengah ruangan ada 4 meja panjang lengkap dengan kursinya dan juga sebuah meja administrasi di sudut ruangan. Ruangan itu masih remang-remang karena saat Veny masuk lampu belum dinyalakan dan cahaya hanya berasal dari sinar matahari yang masih sangat redup yang melewati jendela bertutupkan gorden berwarna oranye. Dia melanjutkan untuk melihat isi dari ruangan itu. Tak lama kemudian dia menemukan sebuah pintu yang terletak di pojok ruangan. Pintu itu terlihat sudah tua, warna coklatnya juga sudah mulai memudar. Dari luar pintu itu tidak terlihat karena tersembunyi diantara rak-rak buku dan juga ukurannya yang tidak setinggi pintu pada umumnya. Dia mencoba membuka pintu itu…. Susah sekali pintu itu dibuka, tapi pintu itu tidak terkunci. Dengan dorongan ekstra pintu itu terbuka hanya beberapa jengkal…..


          Sampai sebuah tangan dingin menyentuh bahunya…


                                                                           

Who's who (Indonesian ver.) - Prolog

          Sore itu cerah tak berawan, bahkan bayang-bayang bulan yang akan muncul sudah bisa dilihat dengan mata telanjang. Aroma angin musim panas yang khas dapat langsung memenuhi hidung dalam sekali tarikan nafas. Udara dingin yang menjadi identitas tempat ini juga sudah mulai menusuk. Kendaraan yang berlalu-lalang memadati jalanan saat itu... ya memang ini adalah saat-saat para pekerja pulang kerumah mereka masing-masing. Tumpukan sampah yang cukup memuakkan mata juga sempat sempat terlihat di sudut-sudut jalan.  Yah bagaimanapun inilah Malang, kota yang dicintai banyak orang karena selain udara yang tidak sepanas di kota-kota besar kota ini juga terkenal dengan aneka kafe dan kulinernya.


          Akan tetapi, nampaknya hal-hal tersebut yang dapat membuat turis dari mancanegara tertarik sekalipun tidak berpengaruh pada Veny, gadis SMA berambut hitam panjang yang dikepang satu di belakang dan berkacamata yang baru menginjak tahun pertamanya di sekolah. Dia sudah terbiasa dengan suasana Kota Malang yang seperti ini, maklum sejak lahir memang dia tidak pernah meninggalkan kota yang sempat mendapatkan title “kota bunga” itu. Saat-saat pulang sekolah seperti itu selalu membuat Veny sebal karena tiap sore dia harus berjalan kaki dari sekolah ke rumah yang jaraknya hampir 7 Kilometer. Orang tuanya masih belum mengijinkan dia untuk membawa sepeda motor sendiri dengan alasan keamanan. Meski tiap hari dia harus selalu pulang dengan badan penuh keringat bercucuran dia tetap tidak pernah protes kepada orang tuanya. Setelah beberapa puluh menit berjalan, akhirnya dia sampai di rumahnya. Rumah tersebut terletak di ujung sebuah jalan dimana depan rumah menghadap langsung ke jalan raya dan di samping rumah terdapat sebuah gang kecil yang hanya bisa dilewati oleh pejalan kaki. Begitu sampai dirumah Veny langsung menuju kamarnya untuk menaruh barang-barangnya dan beristirahat sejenak.


          “Sudah pulang nak?” suara sang Ibu yang lembut dan setengah berteriak samar-samar terdengar dari luar kamar.


          “iya bu, baru aja Veny pulang. ” jawab Veny sembari menata barangnya


          “yaudah kamu istirahat dulu aja, habis itu langsung mandi.”


          “Iyaaaaa.”


          Tanpa berpikir dua kali Veny langsung merebahkan tubuhnya yang tingginya sekitar 160 cm ke kasurnya. Sembari menyamankan diri, Veny melihat sekeliling kamarnya dimana kamar tersebut terlihat sangat rapi dan bersih, dicat dengan warna merah muda kesukaannya, dilengkapi dengan satu lemari buku, satu lemari pakaian, kasur dan meja belajar lengkap dengan alat tulis dan lampu belajar di satu sisi kamar tepat di bawah jendela kamar yang mengarah ke gang sempit disamping rumah. Lantai kamarnya beralaskan karpet tipis bergambar beruang putih yang menutupi sebagian lantai putih di bawahnya. Beberapa saat kemudian pemandangan kamarnya menjadi buram dan akhirnya gelap……