Sunday, February 14, 2016

Who's who (Indonesian ver.) - Ch 8

       Pada hari itu, di lapangan sekolah, sejauh mata memandang hanya terlihat orang-orang yang menundukkan kepala mereka, murid, guru, semuanya sama. Bagaimana tidak mereka telah kehilangan seorang figur yang begitu baik di mata mereka, ditambah lagi kejadian seperti ini bukan yang pertama kali di sekolah ini. Secara mengenaskan kedua murid sekolah ini sudah tiada. Veny merasa demikian, tapi kali ini dia berusaha menahan emosi dalam dirinya, dia tidak mau kehilangan kontrol seperti saat dia kehilangan Dina dulu dan dia merasa kalau Bagaspun juga pasti akan lebih senang jika Veny demikian. Setelah dia beberapa saat memandangi Bagas untuk terakhir kali dia perlahan pergi menjauh. Sekarang yang dia butuhkan adalah ketenangan sejenak. Veny hanya mengikuti kemana kakinya membawanya, sampai dia sampai di atap sekolahnya.

        Lagi-lagi pemandangan sore hari, keindahannya sama persis seperti apa yang dia lihat saat sedang menungu Bagas kemarin. Veny berjalan ke tepi atap dan duduk dengan kaki menggantung bebas. Matanya memandang kerumunan orang-orang dibawah. Satu persatu dari mereka beranjak pulang. Veny bertanya-tanya apakah dia seharusnya berada di kerumunan itu sekarang alih-alih menyendiri seperti ini. Tetapi, ternyata dengan menyendiri di sini dia bisa menangis semaunya, sepuas hatinya. Dia sudah tidak kuasa membendung air matanya lagi. Hanya dalam hitungan detik pipinya hingga dagunya sudah basah oleh tetesan air mata. Kedua tangannya mengepal satu sama lain di kakinya. Matahari semakin surut cahayanya seakan ikut bersedih, dari bawah terdengar lebih banyak orang yang keluar dari halaman sekolah beranjak pulang. Dengan satu hentakan emosi dan kesedihan yang tak dapat dia tahan lebih lama lagi, dia menangis kencang sembari wajahnya menatap langit nila di atasnya. 

***

       Seminggu kemudian, Veny sudah bisa melakukan aktivitasnya seperti biasa meskipun terkadang saat malam tiba dia masih sering menangis dalam diam. Jam istirahat sudah selesai, dia beranjak kembali ke kelasnya. Siang itu sedikit mendung, angin juga terasa lebih kencang dari biasanya. Sesaat sebelum dia masuk ke kelas, seseorang memanggil namanya.

            " Veny ", tampak seorang guru menyapa dari jauh.

            " Oh, iya ada apa Bu Ana? "

            " Kamu ada waktu pulang sekolah? ada yang mau ibu bicarakan sama kamu "

            " Kebetulan tidak ada Bu "

            " Baiklah, nanti Ibu tunggu di ruangan Ibu ya "

      Setelah itu, Veny masuk ke kelas dan melanjutkan pelajaran berikutnya sampai selesai. 

      Sesuai janjinya, sepulang sekolah dia menemui Bu Ana tadi di ruangannya. Dia belum pernah memasuki ruang itu sebelumnya. Ruangan itu cukup luas dengan beberapa rak buku di kanan dan kiri ruangan. Catnya di warna putih bersih dan terlihat seperti ruangan itu baru dibersihkan. Veny kemudian duduk di kursi yang ada di situ.

            " Jadi, ada apa Bu? "

            " Hmm begini, Ibu tau apa yang sudah menimpamu selama bersekolah di sini. Hanya beberapa pertanyaan yang ingin Ibu tanyakan, kamu keberatan? "

            " Sama sekali tidak Bu "

      Lalu mereka mulai saling tanya dan bercerita. Pada beberapa bagian cerita Veny beliau nampak terkejut, bingung dan terkadang beliau mendadak terlihat sangat serius. Setelah Veny selesai bercerita hingga kejadian yang menimpa Bagas, dia disuguhi secangkir teh hangat dan beberapa snack. Lalu, Bu Ana melanjutkan pertanyaannya.

            " Kamu bilang bahwa pembunuh kedua temanmu adalah seorang admin perpustakaan kita, begitu? "

            " Mungkin teman-teman yang lain tidak pernah bertemu dan mungkin Anda juga tidak percaya dengan cerita saya "

            " Mungkin ya, mungkin tidak... Menurut ceritamu pertama kali kamu tahu tentang admin itu adalah dari Dina "

            " Benar Bu "

            " Hmm.. "
      
       Beliau beranjak dari kursinya dan berjalan mengambil sebuah buku yang nampaknya sedikit terlihat usang di salah satu rak.

            " Siapa nama lengkap Dina temanmu itu? " 

            " Dina Arlina "

            " Jadi begitu.. Veny, kamu teman sejak kecilnya kan? apa kamu tahu dia punya saudara atau tidak? "

           " Yang saya tahu dia memiliki seorang kakak perempuan, itu saja "

           " Dan kakaknya itu pernah bersekolah di sini beberapa tahun yang lalu ", beliau menyelesaikan kalimatnya.

           " Be-benarkah? "

       Ternyata masih ada sesuatu yang Veny belum tahu tentang sahabatnya itu. Tetapi dia masih belum tahu kemana arah pembicaraan ini.

          " Lalu apa hubungannya dengan masalah ini Bu? ", Veny melanjutkan bertanya

          " Sebenarnya Ibu sudah meneliti masalah ini, tentang Dina, Bagas dan juga Kamu, Veny. "

          " Maksudnya? saya masih belum bisa mengerti "

          " Selama ini kamu mencari-cari admin itu kan? Ibu rasa Ibu tahu siapa yang kamu cari itu dan dimana dia sekarang. "

       Bagaikan tersambar petir, Veny terguncang mendengar kata-kata gurunya itu. Bagaimana tidak, seseorang yang sudah menyebabkan semua ini akhirnya ditemukan dimana keberadaannya. Entah bagimana jawaban yang dia butuhkan tersedia dengan mudahnya sekarang ini. Mau tidak mau Veny merasa sangat lega akhirnya ada juga orang yang mengerti dirinya bahwa admin perpustakaan benar-benar ada. Veny langsung berdiri dan mendekati gurunya.

           " Dimana dia Bu? Kalau keberadaannya sudah diketahui ayo kita segera panggil polisi dan membuatnya mengaku! "

           " Ini mungkin hanya asumsi Ibu, Ven. Ibu tadi bilang kan kalau Dina mempunyai seorang kakak yang pernah bersekolah di sini beberapa tahun yang lalu. Jadi dugaan Ibu adalah Dina mengetahui adanya admin itu adalah tak lain dari kakaknya sendiri "

           " Itu tidak penting Bu, yang penting sekarang kita Ibu tahu kan dia dimana. Ayo segera panggil polisi Bu ", Veny sudah mulai tidak sabar lagi menunggu.

           " Lihat ini "

      Veny melihat halaman di dalam buku yang dipegang gurunya itu. Dia tidak mengerti buku apa itu tapi sepertinya itu buku jurnal sekolah yang ditulis dengan tangan. Beberapa saat kemudian dia melihat sebuah nama yang tidak terlalu asing baginya disana. 

          " Dewi Arlina? inikah- "

          " Benar, kebetulan mereka punya nama belakang yang sama "

          " Lalu kenapa menunjukkan buku ini? "

          " Lihat halaman selanjutnya dan kamu akan mengerti "

     Veny membalik halamannya dengan hari-hati. Halaman berikutnya juga terlihat sama lusuh seperti tampak luar bukunya. Di situ terlihat lebih sedikit tulisan tangan daripada halaman yang tadi hanya saja ada sesuatu yang ditempel dengan selotip, sebuah potongan artikel koran. Dia mulai membaca judul artikelnya. Perlahan tapi pasti dia terus membaca isi artikel itu. Semakin dia membaca, tubuhnya semakin mengeluarkan banyak keringat, pikirannya mulai tidak karuan sekarang. Dia terus membaca sampai alfabet terakhir. Dia mulai tahu kenapa dia harus melihat buku ini, artikel ini dan menemui gurunya. Dia selesai membaca. Tatapannya kosong sekarang. Perlahan, dia memandang hampa wajah gurunya. Takut bahwa beliau akan lebih memperjelas apa yang sudah dia baca.

          " Sejak pertama berdiri, sekolah ini mempunyai kebijakan yang tidak sama seperti sekolah lain, perpustakaan tidak dikelola oleh seorang admin perpustakaan, namun ditangani langsung oleh beberapa guru. Tetapi hanya sekali, kami pernah memiliki seorang admin perpustakaan untuk membantu, saat itu dia juga murid di sini, tahun ketiga . "

      Veny tidak tahu harus berkata apa sekarang, pikirannya belum bisa stabil. Meski begitu, gurunya tetap melanjutkan kalimatnya.

          " 29 Juli pada tahun 2010, 6 tahun yang lalu. Seorang murid perempuan tahun pertama, selamat dari sebuah kecelakaan yang terjadi saat salah satu bangunan sekolah sedang direnovasi. Dewi, dia bisa selamat dari setumpuk material bangunan berkat seseorang yang menolongnya. "

          " Dan orang yang menolongnya itu adalah..."

      Gurunya mengambil buku itu lagi dan menunjukkan sebuah nama lain dan foto seorang murid yang tidak dia kenal.

          " Fikry, murid tahun ketiga, admin perpustakaan. Dia tewas seketika pada saat itu juga karena luka di kepala. Entah siapa admin yang kamu lihat Veny, tapi yang jelas satu-satunya admin yang pernah ada di sekolah ini, seharusnya sudah tidak ada lagi. "



TO BE CONTINUED

Sunday, February 7, 2016

Who's who (Indonesian ver.) - Ch 7x


             " Gas, Bagas.. Bangun Gas ", seseorang memanggil namanya

             " Ah, kamu put "

            " Apanya yang "ah kamu put", kamu tidur mulai pelajaran terakhir tadi "

            " Hah!? sudah jam segini? udah pulang sekolah dong ", Bagas langsung bangkit dari kursinya

            " Hhh.. dasar, yaudah pulang duluan ya "

        Bagas baru sadar dia tertidur cukup lama, sepertinya dia kelelahan begadang tadi malam. Kelas sudah kosong, lorong sekolahpun juga sudah agak sepi. Setelah selesai membereskan barangnya, dia langsung keluar dari kelas dan ingin segera pulang. Tidak biasanya dia tertidur di kelas. Sebagai anak yang selalu mendapat nilai bagus, tertidur saat kelas sepertinya agak sedikit tidak lazim. Di dalam tidurnya tadi dia juga mendapat mimpi yang aneh, meskipun dia juga tidak ingat pastinya. Setelah sampai di parkiran dia segera menyalakan motornya dan pulang ke rumah.

       Ternyata rumahnya masih sepi, tidak ada orang sama sekali. Memang ibunya bekerja full-time semenjak dia kehilangan ayahnya, sedangkan adiknya pasti masih mengikuti les diluar. Begitu masuk ke dalam rumah, dia menuju dapur membuat makan malam untuk ibu dan adiknya. Dia masih terpikir dengan kejadian memalukan tadi siang, mungkin sebagian orang beranggapan bahwa tertidur saat pelajaran adalah hal yang wajar, namun untuk Bagas hal itu tidak boleh sampai terulang lagi. Semenjak ayahnya meninggal, ibunya harus banting tulang setiap hari, penghasilan juga tidak seberapa, oleh karena itu dia ingin segera lulus dari SMA dengan nilai sempurna dan masuk ke universitas menggunakan beasiswa dengan begitu beban ibunya tentu akan sangat berkurang. Selesai memasak, dia makan bagiannya dan membungkus makanan untuk ibu dan adiknya nanti. Bagas lalu naik ke lantai 2 dan masuk ke kamarnya.  


***


     Hari berikutnya entah kenapa dia ingin pergi ke perpustakaan siapa tahu di sana ada novel ber-genre misteri kesukaannya. Saat sampai di sana dia melihat hanya beberapa anak saja yang sedang membaca. Sebelum dia menuju rak buku, ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Sebuah tas yang jelas tas perempuan tergeletak rapi di meja dekat tempat administrasi. Bukan itu, yang menarik perhatiannya adalah tas itu seperti dijejalkan sesuatu yang membuat seakan-akan tas itu diisi dengan paksa. Dia mendekati tas itu, tali ini ternyata tali tambang. "Tapi kenapa harus ada tali tambang di tas perempuan?", pikirnya. Setelah dia amati dengan seksama, tali itu mempunyai 2 warna.

           " Apa ini? darah? ", sambil meraba-raba tali itu.

     Entah darimana ia berpikir kalau tali berlumuran darah dan tas ini bukan dari orang yang sama. Dia berpikir pasti anak yang punya tas ini akan takut jika ada benda seperti ini di tasnya. Tanpa pikir panjang dia keluarkan tali itu dari tas tersebut dan membawa tali itu bersamanya kembali ke kelas.    


*** 


       Besoknya dia sekolah seperti biasanya, tidak ada yang spesial. Hari-hari yang berjalan seperti biasanya, dia juga sudah mulai melupakan kejadian saat dia menemukan sesuatu di perpustakaan kemarin.

           " Ini aku kembalikan, terimakasih ya ceritanya bagus banget "

           " Untung deh kalau kamu suka, aku masih punya banyak di rumah kalau kamu mau pinjam "



           " Okeedeh "


     Bagas memang selalu suka dengan novel yang bertema misteri atau apapun yang bisa membuatnya berpikir. Dia juga suka dengan permainan catur yang biasa dia lakukan saat waktu senggang. Saat waktu istirahat tiba, Bagas hendak pergi ke kantin sekolah. Seperti biasa keadaan kantin penuh sesak, perlu waktu beberapa saat sampai dia mendapatkan yang dia mau. Disaat dia akan kembali ke kelasnya ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Seorang anak perempuan terlihat gelisah mondar-mandir di depan kelasnya, padahal ini sedang jam istirahat kenapa dia segelisah itu? apa dia akan ada ujian setelah ini? pikirnya. 


           " Um, kamu baik-baik aja? apa ada yang hilang? "


           " A-ah, nggakpapa kok hehe ", anak itu terlihat terkejut dengan kehadiran Bagas.


           " Oh, oke kalau gitu, ini jam istirahat loh apapun yang sedang kamu pikirkan try to relax for a while, okay? "


           " Hm, o-oke "

 
      Setelah diperhatikan ternyata anak itu terbilang cantik, dengan tinggi sekitar 160 cm, rambutnya hitam panjang dan dikepang satu, serta memakai kacamata yang membuatnya nampak lebih manis. Bagas tidak mau mengganggu dia lebih jauh, dia berjalan kembali ke kelasnya. Beberapa saat kemudian bel berbunyi dan pelajaran dimulai kembali.


     Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya pelajaran hari ini usai. Bagas bergegas membereskan barang-barangnya dan ingin segera pulang. Dia berjalan menuju tempat parkir. Tiba-tiba Bagas berhenti dan memandang ke lantai atas. Entah kenapa sepertinya sedang ada keramaian disana. Dia naik untuk melihat apa yang terjadi. Ternyata kegaduhan itu berasal dari arah perpustakaan, banyak sekali orang disana mulai dari murid hingga para guru dan kepala sekolah. Bagas mendekat, ternyata disana juga ada beberapa orang polisi. "Apa yang terjadi?", tanyanya dalam hati. Dia lantas bertanya kepada beberapa orang anak yang ada di tengah kerumunan itu. Bagas tidak mempercayai dengan apa yang dia dengar, bagaimana mungkin kejadian seperti ini bisa terjadi. Kemudian dia mendengar seseorang berteriak...

           " DIMANA DIA? HARUSNYA DIA YANG BERJAGA DISINI KAN? HARUSNYA DIA TAHU APA YANG TERJADI DISINI "


          " SIAPA LAGI? JELAS ADMIN PERPUSTAKAAN KAN? BUKANKAH DIA YANG SELALU PUNYA AKSES KE SINI? "


          " AKU AKAN BERTANYA LANGSUNG PADANYA! " 


      Bagas menoleh ke arah suara itu, ada seseorang yang membelah kerumunan itu. Ternyata itu anak yang dia temui saat istirahat tadi. Dia terlihat mencari-cari seseorang, tapi dirinya terlihat tidak terkendali sama sekali. Entah kenapa, Bagas juga jadi ikut mencari seseorang itu padahal dia tidak tahu siapa dan seperti apa orang yang dicari. Dia melihat anak perempuan itu juga nampaknya menyerah dengan usahanya, sepertinya dia tidak dapat menemukan apa yang dia cari, beberapa saat kemudian anak itu terlihat lemas dan akhirnya pingsan. Bagas langsung berlari menghampiri anak itu.


          " He-hei kamu kenapa? tolong siapa saja bantu aku membawanya! "


     Dibantu dengan beberapa anak, dia membawa anak itu ke ruangan UKS. Setelah itu, dia menyerahkan semuanya kepada guru disitu. Lalu dia kembali ke perpustakaan, untuk melihat lebih dekat apa yang terjadi. Dilihatnya perpustkaan sudah terisi dengan lebih banyak polisi. Dia menghampiri mereka, menanyakan beberapa pertanyaan. Mereka mengatakan belum menemukan apapun untuk diperiksa. Kemudian, Bagas penasaran dengan tempat anak yang meninggal itu ditemukan. Kecil, ruangan ini seperti sebuah tempat menyimpan buku usang, hanya saja tidak ada buku disitu, hanya percikan darah yang tertera di dindingnya. 

          " I-ini, mungkinkah... "


       Didalam ruangan kecil itu, dia menemukan sebuah cutter yang berlumuran darah dan dengan segera dia menyerahkan itu kepada polisi. Setelah itu, mereka mulai menyelidiki tempat ditemukannya Dina .Beberapa saat kemudian, pemeriksaan hari itu diakhiri. Mereka belum menemukan siapa yang membunuh anak yang bernama Dina itu. Karena sudah tidak ada yang bisa dia lakukan, Bagas mengambil tasnya dan bergegas untuk pulang. Sebelum dia meninggalkan sekolah, dia melihat ke arah jendela UKS dan bertanya-tanya apakah anak itu baik-baik saja.

***


       Saat itu, musim hujan sudah mulai datang. Angin dingin ini serasa memperparah suasana hatinya. Setelah dia bercerita beberapa hal tentang dirinya, dia mulai terisak-isak. Bagas hanya memperhatikan di sebelahnya. Mereka berdua sedang duduk di sebuah kursi di tepi lapangan basket . Sekarang hari Minggu, tidak ada yang datang ke sekolah. Bagas ke sinipun kebetulan hanya untuk menumpang wifi gratis. Namun siapa sangka anak perempuan yang dia temui saat itu juga ada di sini.

          " Lalu, apa yang akan kamu lakukan? ", Bagas mulai percakapan lagi agar anak itu berhenti menangis.


          " Entahlah, aku juga tidak tahu "


          " Begitu ya... Oh ya, pada hari itu siapa yang kamu cari?  " 


          " Maksudmu waktu istirahat itu? aku sedang bingung karena sahabatku Dina itu tidak pernah muncul lagi di sekolah bahkan di rumahnya, jadi aku sangat khawatir. " 


          " Tidak, maksudku saat di perpustakaan " 


       Seketika ekspresi anak itu berubah menjadi tatapan benci, dia nampak enggan menjawab dan berhenti sejenak. Setelah beberapa saat dalam diam akhirnya dia menghela nafas dan menjawab pertanyaan Bagas.

           " Seorang admin perpustakaan " 


           " Kenapa kamu cari dia? "


           " Aku juga tidak tahu, tapi harusnya dia kan yang bertanggung jawab dengan ruangan itu, harusnya dia tahu sesuatu. "


           " Perkataanmu itu, seakan dia yang membunuh sahabatmu "


           " Aku nggak tahu, tapi sebelum aku melihat tubuh Dina aku berpapasan dengannya di tengah-tengah kerumunan, tapi setelah itu dia menghilang entah kemana. "


           " Benar juga itu agak mencurigakan, lagipula kamu tadi cerita kalau Dina itu ke perpustakaan untuk melihat orang itu kan? Memang benar katamu, orang itu pasti tahu sesuatu. " 


       Bagas menyilangkan kedua tangannya. Pandangannya mengarah ke langit mendung saat itu. Dia mulai berpikir apa yang diceritakan anak itu. Meskipun dia tahu ini bukan urusannya, entah kenapa dia juga ikut penasaran. Akhirnya, dia beranjak dari duduknya dan membersihkan celananya. Dia memutar badannya menghadap anak itu yang masih menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, terisak sedih. Udara semakin dingin. Bau ini, dia tahu sebentar lagi akan hujan. Dia kembali melihat anak itu, mengusap rambutnya perlahan.

           " Aku tahu aku tidak ada hubungannya dengan semua ini, tapi akan kubantu kamu sebisaku, menangis sekarangpun nggak ada gunanya, kalau memang kamu mencari orang itu dan ingin tahu semua yang terjadi dengan Dina, aku akan bantu..pasti " 


       Anak itu setengah terkejut dengan perkataan Bagas. Tapi entah kenapa dia hanya mengangguk dan juga beranjak dari tempat duduknya.


          " Kamu nggak bawa kendaraan kan? Ayo aku anterin pulang sekarang, nanti keburu hujan "


     Bagas berbalik, dan berjalan menuju dimana motornya diparkir. Anak itu mengikutinya dari belakang. Dari kejauhan suara gemuruh petir mulai terdengar, meskipun begitu dia masih bisa mendengar anak di belakangnya berbicara pelan.

           " Terima kasih "


            " Sama-sama, err.. "


            " Veny.. panggil aja aku Veny "

      
          Meski sedikit Bagas bisa melihat sedikit senyum di wajahnya. Bagas tertegun sejenak, anak itu jauh lebih cantik saat dia tersenyum seperti ini dan dengan senang dia membalas senyum anak itu.

            " Aku Bagas, sama-sama Veny " 

***


     Dia sudah punya banyak bukti, dalam rentang waktu setahun ini dia bisa mengumpulkan sebanyak ini. Tali yang dia temukan di tas Veny, rekaman CCTV perpustakaan yang dia ambil diam-diam setelah dia mengunjungi ruang penjaga dan juga foto tempat Dina ditemukan. Sudah saatnya dia katakan semua pada Veny. Kelas pagi ini sudah hampir dimulai, sebelum dia menuju ke tempat duduknya, dia membisikkan sesuatu ke telinga Veny.


              " Ini tentang Dina... sepulang sekolah di atap sekolah "


***

        Sudah selesai, dengan begini semua yang dia tahu sudah dia sampaikan ke Veny. Satu-satunya hal yang kurang adalah menemukan orang itu, kalau dia bisa ditemukan maka masalah ini selesai. Bagas beranjak berdiri, begitu pula dengan Veny.


               " Ah, charger laptopku tertinggal di kelas "


               " Apa? kalau gitu ayo kita ambil ", timpal Bagas


               " Biar aku sendiri aja, kamu tunggu aku di motor aja ya "


           Bagas melihat Veny berlari menjauh. Tiba-tiba dia ingat sesuatu, hari ini 27 September berarti besok adalah ulang tahun Veny. Bagas sedikit tersenyum sambil berjalan ke arah tangga turun, tidak bisa menahan rasa penasaran bagaimana melihat wajah gembira Veny saat dia memberinya kejutan besok.


               " Mungkin besok aku harus kasih dia hadiah ", katanya pelan sambil hendak memasukkan tali tambang tersebut ke dalam tasnya.


               " Mungkin juga, kau tak akan sempat melihat wajahnya lagi "


      Dia terkejut tiba-tiba ada seseorang di tangga turun yang gelap itu. Matanya masih belum terbiasa dengan kegelapan setelah dari luar ruangan tadi. Dia mencari dalam gelap, memandang ke segala arah, tapi tidak bisa di situ terlalu gelap untuk melihat sekitar.


               " Siapa disitu! "


               " Entahlah.. "


       Tiba-tiba tali yang ada di tangannya direbut darinya, dan dia merasakan seperti sebuah pukulan di perutnya. Dia masih tidak bisa melihat dengan jelas. Untuk kedua kalinya sebuah hantaman mendarat di wajahnya. Bagas meraung kesakitan. Mungkin saja dia pembunuh itu, pikirnya. Matanya sudah mulai beradaptasi, meskipun belum jelas dia tahu posisi lawannya. Belum sempat dia membalas, lehernya serasa tercekik kuat sekali. Dia berusaha meraih lehernya namun kepalanya serasa dipukul dengan keras. Bagas belum mau menyerah, dia memutar badannya, berusaha melihat wajah lawannya. 


               " Si-siapa kamu... "


      Nafasnya sudah sesak sekali, dia masih belum bisa melepas cekikan di lehernya. Sedetik kemudian, orang itu mendorong dan melemparkan bagas dari atas tangga. Bagas masih terus berkutat, dia tidak mau berakhir seperti ini. Dia harus mengatakan sesuatu yang penting kepada Veny. Tidak berhasil, pandangannya mulai buram sekarang, kepalanya mulai berdesing, dia tidak bisa berpikir jernih, dipikirannya hanya ada Veny sekarang. Beberapa saat kemudian, dia mendengar langkah dan suara Veny dari kejauhan. Mengerahkan semua tenaga terakhirnya, dia memanggil nama seseorang di pikirannya itu...